Thailand kebut 'Land Bridge' US$31 miliar, hindari Selat Malaka?
Rabu, 29 April 2026

JAKARTA - Thailand mempercepat rencana proyek “Land Bridge” senilai sekitar US$31 miliar di tengah gangguan di Selat Hormuz, sekaligus menjajaki Singapura sebagai calon investor utama.
Seperti dikutip Reuters, Pemerintah Thailand kembali menghidupkan proyek lama yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik melalui jalur darat di semenanjung selatan. Langkah ini muncul setelah gangguan di Selat Hormuz menyoroti kerentanan jalur pelayaran global, termasuk Selat Malaka.
Rencana tersebut sebelumnya sempat tertunda akibat ketidakstabilan politik, dengan proses konsultasi publik serta kajian dampak lingkungan dan kesehatan yang belum rampung, serta penolakan dari sebagian warga.
Pemerintah menargetkan proposal diajukan ke kabinet pada Juni atau Juli. Proyek dengan nilai investasi sekitar 1 triliun baht itu diharapkan mulai menarik investor pada kuartal III, menurut Menteri Transportasi Phiphat Ratchakitprakarn.
Konsep Land Bridge mencakup pembangunan dua pelabuhan laut dalam di Ranong (Laut Andaman) dan Chumphon (Teluk Thailand), yang dihubungkan oleh jalur darat dan rel sepanjang 90 km serta infrastruktur energi seperti pipa.
Proyek ini ditujukan sebagai alternatif rute selain Selat Malaka, jalur sepanjang 900 km yang menjadi penghubung utama perdagangan antara Asia Timur, Timur Tengah, dan Eropa.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul membahas rencana tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing. Negara kota itu dinilai strategis karena berada di ujung Selat Malaka, yang dilalui lebih dari 100.000 kapal, sebagian besar kapal komersial, sepanjang tahun lalu.
"Dia melihatnya sebagai peluang ekonomi bagi Thailand dan bagi investor asing, jika proyek tersebut dapat berhasil dijalankan," kata juru bicara pemerintah Thailand, Rachada Dhanadirek, merujuk pada Chan, menambahkan bahwa ia menyatakan minatnya pada rencana tersebut.
Di sisi lain, wacana pengenaan tarif kapal di Selat Malaka sempat mencuat setelah pernyataan Menteri Keuangan Indonesia, sebelum kemudian diklarifikasi. Proyek Land Bridge dinilai lebih realistis dibandingkan rencana “Kra Canal”, yang sejak lama menghadapi kendala lingkungan, biaya, dan keamanan.(DH)