Minyak naik 3%, risiko Hormuz redam efek exit UEA dari OPEC+

Rabu, 29 April 2026

image

JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup menguat hampir 3% pada Selasa, didorong kekhawatiran gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz yang mengalahkan sentimen negatif dari keluarnya Uni Emirat Arab dari kelompok OPEC+.

Seperti dikutip thestar, kontrak Brent pengiriman Juni naik US$3,03 atau 2,8% ke US$111,26 per barel, mencatat kenaikan tujuh hari berturut-turut. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$3,56 atau 3,7% ke US$99,93 per barel, sempat menembus US$100 untuk pertama kali sejak 13 April.

Penguatan harga sempat terpangkas setelah UEA, produsen terbesar keempat di OPEC+, mengumumkan akan keluar dari organisasi tersebut mulai 1 Mei. Langkah ini dinilai menjadi tekanan bagi kelompok produsen minyak yang dipimpin Arab Saudi.

"Dalam kondisi normal, ini akan menjadi berita yang sangat buruk bagi pasar minyak dan memicu aksi jual besar-besaran," kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Ia memperkirakan UEA dapat menambah produksi 1 juta hingga 1,5 juta barel per hari. "Namun dengan Selat Hormuz yang praktis tertutup, tidak ada tempat bagi pasokan itu untuk pergi ... jadi kemungkinan kita akan melihat harga minyak terus perlahan naik,".

Kebuntuan konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut memperkuat tekanan pasokan. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang, sementara Iran menunda pembahasan program nuklir hingga konflik mereda dan sengketa pelayaran di Teluk selesai.

Situasi tersebut membuat jalur Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global, tetap tertutup. AS juga masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

"Dengan perundingan perdamaian yang terhenti dan tidak adanya jalan yang jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz, para pedagang memperhitungkan gangguan berkepanjangan terhadap jalur pasokan global yang sangat penting ini," kata analis Rystad Energy, Jorge Leon.

Data pelacakan kapal menunjukkan gangguan signifikan, termasuk enam tanker minyak Iran yang berbalik arah akibat blokade AS. Meski demikian, sebagian lalu lintas masih berlangsung, termasuk kapal tanker yang mengangkut minyak Arab Saudi dan LNG yang dikelola ADNOC.

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar 125-140 kapal melintasi selat tersebut setiap hari. Sementara itu, data Vortexa menunjukkan volume minyak yang tertahan di kapal tanker global mencapai 153,11 juta barel per 24 April, tertinggi sejak Januari.

World Bank memperingatkan harga energi global berpotensi naik 24% pada 2026, bahkan jika gangguan pasokan di Timur Tengah mereda. Risiko kenaikan harga dinilai masih lebih besar dibandingkan penurunan.

Di AS, harga bensin mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun. Data American Petroleum Institute juga menunjukkan penurunan stok bensin sebesar 8,67 juta barel pada pekan yang berakhir 24 April, jauh di atas perkiraan analis. Faktor lain yang memengaruhi pasar termasuk serangan drone Ukraina yang memicu kebakaran di kilang Tuapse Rusia serta potensi peningkatan ekspor bahan bakar dari China mulai Mei.(DH)