Krisis Hormuz tekan LNG global, AS tak mampu tutup kekurangan

Rabu, 29 April 2026

image

NEW YORK - Penutupan Selat Hormuz memicu tekanan besar di pasar LNG global setelah ekspor gas alam cair dari Qatar, salah satu pemasok terbesar dunia,terhenti selama hampir dua bulan, mendorong lonjakan harga tajam di Eropa dan Asia.

Menurut laporan The New York Times, gangguan ini menunjukkan keterbatasan pasokan global karena bahkan Amerika Serikat, eksportir LNG terbesar dunia, tidak mampu sepenuhnya menutup kekurangan tersebut.

Seperti dikutip GULF NEWS, krisis ini menjadi guncangan besar kedua bagi pasar gas global dalam lima tahun terakhir, setelah Rusia memangkas pasokan gas pipa ke Eropa pasca perang Ukraina pada 2022.

Namun kali ini, analis menilai dampaknya bisa lebih serius karena kapasitas ekspor AS sudah hampir maksimal.

“Seluruh LNG yang diekspor dari AS sudah berada pada kapasitas penuh,” kata Massimo Di Odoardo dari Wood Mackenzie.

Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, harga LNG di Eropa dan Asia melonjak hingga enam kali lipat dibanding harga gas domestik AS, mencerminkan pasar yang semakin ketat dan minim alternatif pasokan.

Sekitar 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital bagi keamanan energi dunia.

Ketika pelayaran terganggu dan kapal-kapal tertahan, arus pasokan dari kawasan Teluk pun melambat drastis.

Situasi memburuk setelah Qatar menghentikan produksi di fasilitas Ras Laffan, salah satu pusat LNG terbesar dunia, setelah serangan rudal merusak sekitar 17% kapasitasnya.

Meski perusahaan energi AS terus memperluas kapasitas ekspor, terminal LNG baru,terutama di kawasan Gulf Coast,memerlukan waktu bertahun-tahun dan investasi miliaran dolar untuk beroperasi.

Sejumlah proyek memang sedang berjalan, tetapi tidak cukup cepat untuk menggantikan hilangnya pasokan Qatar dalam waktu dekat.

Akibatnya, negara-negara pengimpor besar seperti Italia, Taiwan, dan Korea Selatan kini berlomba mengamankan pasokan atau beralih ke bahan bakar alternatif.

Sebagian bahkan berpotensi melakukan pembatasan energi sambil mempercepat investasi pada energi terbarukan dan penyimpanan energi.Gas alam saat ini menyumbang sekitar seperempat konsumsi energi global dan tetap menjadi sumber penting untuk pembangkit listrik serta industri, terutama di tengah transisi dunia dari batu bara ke energi yang lebih bersih.

Amerika Serikat tercatat mengekspor hampir 18 miliar kaki kubik LNG per hari pada Maret, mendekati rekor tertinggi.

Namun para analis menegaskan bahwa bahkan peningkatan ekspor AS tidak akan cukup jika gangguan di Hormuz berlangsung lama.

Kekhawatiran terbesar kini bersifat struktural: kerusakan kapasitas ekspor Qatar dan keterlambatan proyek-proyek baru berpotensi menunda pertumbuhan pasokan global selama bertahun-tahun, menjaga harga tetap tinggi.

Bagi kawasan pengimpor energi seperti Eropa dan sebagian besar Asia, pesan utamanya jelas: jaring pengaman pasokan LNG global semakin menipis, dan krisis ini memaksa banyak negara meninjau ulang ketergantungan mereka terhadap gas alam cair.  (DK)