Harga sulfur melonjak, Huayou pangkas produksi nikel RI

Rabu, 29 April 2026

image

JAKARTA - Perusahaan tambang asal China, Zhejiang Huayou Cobalt, memangkas produksi di fasilitasnya di Indonesia setelah lonjakan harga sulfur meningkatkan biaya operasional proyek nikel untuk baterai.

Seperti dikutip mining, dalam pernyataan resmi, perusahaan menyebut unitnya, Huafei Nickel Cobalt, akan menghentikan sementara sebagian lini produksi mulai 1 Mei. Langkah ini memangkas sekitar separuh kapasitas output pabrik. Perusahaan tidak menyebutkan durasi penghentian tersebut.

Huayou menyatakan pemangkasan produksi dipicu kenaikan harga sulfur serta kebutuhan perawatan setelah periode operasi dengan kapasitas tinggi.

Harga spot sulfur untuk pengiriman ke Indonesia kini melampaui US$800 per ton. Kenaikan ini dipicu gangguan produksi dan distribusi dari kawasan Teluk akibat konflik Iran. Wilayah tersebut menyumbang sekitar seperempat pasokan sulfur global dan sekitar 75% kebutuhan Indonesia.

Sebelumnya, Reuters melaporkan sejumlah produsen HPAL di Indonesia, termasuk Lygend Resources dan Tsingshan Group, telah memangkas produksi setidaknya 10% sejak Maret akibat lonjakan biaya sulfur.

Penghentian sebagian operasi di Huafei menjadi salah satu sinyal paling jelas bahwa tekanan pasokan sulfur mulai berdampak langsung pada industri nikel HPAL di Indonesia. Teknologi high-pressure acid leach (HPAL) menggunakan asam sulfat untuk mengolah bijih laterit menjadi mixed hydroxide precipitate, bahan antara utama untuk baterai kendaraan listrik.

Huayou menyatakan akan mempercepat peningkatan proses untuk menekan konsumsi asam sulfat serta memperluas sumber pasokan sulfur. Perusahaan juga akan mempercepat pengembangan aset tambang nikel, kobalt, dan litium melalui investasi dan kepemilikan saham.

Secara kinerja, Huafei mencatat pendapatan 14,50 miliar yuan (US$2,12 miliar) pada 2025 atau sekitar 17,89% dari total pendapatan Huayou. Laba bersih mencapai 1,25 miliar yuan, dengan kontribusi laba kepada induk sebesar 569 juta yuan atau 9,32% dari total laba bersih perusahaan.(DH)