UNTR dan Martabe bebani kinerja Astra, laba turun 16% di kuartal I
Kamis, 30 April 2026

JAKARTA – Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) pada kuartal I 2026 tercatat ambles 16% secara tahunan. Emiten holding Grup Astra ini membukukan laba bersih Rp5,85 triliun pada akhir Maret 2026.
Menurut siaran resmi yang diterima IDNFinancials, menyusutnya laba bersih sejalan dengan penurunan pendapatan sebesar 6% menjadi Rp78,67 triliun per akhir kuartal I 2026.
Presiden Direktur Grup Astra, Rudy, menyebutkan bahwa penurunan kinerja pada periode ini disebabkan oleh menyusutnya kontribusi lini Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi Perseroan.
Laba bersih lini bisnis tersebut anjlok hingga 79% menjadi hanya Rp408 miliar akibat absennya kontribusi penjualan emas Tambang Martabe dan rendahnya permintaan alat berat dan jasa pertambangan menyusul pemangkasan RKAB batu bara nasional 2026.
Selain itu, terdapat dampak dari biaya one-off yang dibayar PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp723 miliar terkait bisnis nikel dan panas bumi miliknya.
Namun, bahkan jika biaya tersebut tak diperhitungkan, laba bersih lini bisnis tersebut masih tetap anjlok 42% secara tahunan.
“Meski demikian, lini bisnis lainnya menunjukkan pertumbuhan kinerja, sehingga mengimbangi sebagian penurunan tersebut,” tegas Rudy.
Misalnya, dua lini bisnis utama Grup Astra – otomotif & mobilitas serta jasa keuangan – membukukan pertumbuhan masing-masing 4% dan 6%, menyumbang laba bersih Rp2,37 triliun dan Rp2,28 triliun.
Meski penjualan mobil lesu, namun bisnis komponen otomotif yang digawangi PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mampu menopang performa lini otomotif – dengan kenaikan kontribusi laba bersih hingga 10% menjadi Rp447 miliar.
Kontribusi bisnis jasa keuangan juga bertumbuh didukung pertumbuhan pembiayaan yang merata, baik di segmen motor, mobil, hingga alat berat, serta kinerja asuransi.
Selain kedua pilar pendapatan tersebut, lini properti Astra mencatat laba bersih meroket hingga 145% menjadi Rp115 miliar, disusul lini teknologi informasi yang melesat 47% menjadi Rp53 miliar.
Kemudian, lini agribisnis juga mencatatkan pertumbuhan laba hingga 35% menjadi Rp298 miliar, dan segmen infrastruktur tumbuh 32% menjadi Rp343 miliar.
Di sisi lain, Rudy meyakini bahwa kondisi pasar ke depannya masih akan menantang akibat pengaruh tensi geopolitik.
“Kami akan terus menghadapi tantangan jangka pendek dengan kehati-hatian dan disiplin, sekaligus berfokus menciptakan nilai bagi semua pemangku kepentingan,” pungkasnya. (ZH)