Output pabrik Jepang turun, perang Iran tekan permintaan

Kamis, 30 April 2026

image

TOKYO - Output pabrik Jepang melemah karena perang di Iran membayangi prospek permintaan global sekaligus menekan margin produsen lewat lonjakan biaya energi.

Kementerian Perindustrian Jepang pada Kamis melaporkan produksi industri turun 0,5% pada Maret dibanding bulan sebelumnya, berlawanan dengan perkiraan ekonom yang memperkirakan kenaikan 1,1%. 

Secara tahunan, output masih tumbuh 2,3%, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2,2%, mengutip dari Bloomberg.

Laporan ini mencerminkan mulai melemahnya prospek bisnis manufaktur setelah dampak konflik Timur Tengah merambat ke ekonomi global.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya menyebut prospek ekonomi dunia “tiba-tiba memburuk” sejak pecahnya perang di kawasan tersebut dan memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1%.

Penurunan produksi terjadi pada sektor mesin umum dan mesin industri, serta industri produk minyak bumi dan batu bara.

Ini menjadi bulan kedua berturut-turut output industri secara keseluruhan melemah, meskipun secara kuartalan masih mencatat kenaikan berkat kinerja kuat pada Januari.

Kepala riset ekonomi NLI Research Institute, Taro Saito, mengatakan produksi pada kuartal pertama masih mampu naik tipis, tetapi situasi Timur Tengah jelas membebani data Maret.

Ia menilai meski prospek saat ini terlihat cukup optimistis, risiko pelemahan masih cukup besar.

Kementerian menyebut para produsen memperkirakan output akan kembali meningkat pada April dan Mei.

Menurut Saito, lonjakan permintaan semikonduktor terkait kecerdasan buatan (AI) dan tekanan pada industri yang bergantung pada minyak akan membuat data produksi berfluktuasi dalam waktu dekat.

Sektor terkait AI diperkirakan tetap menjadi penopang utama di tengah pelemahan komoditas berbasis minyak.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pasokan minyak mentah untuk tahun ini masih dapat diamankan melalui cadangan strategis dan jalur alternatif selain Selat Hormuz, meski hambatan distribusi produk minyak bumi masih terjadi.

Secara terpisah, penjualan ritel naik 1,3% pada Maret dibanding Februari dan tumbuh 1,7% secara tahunan setelah sempat turun pada bulan sebelumnya. Namun, tren konsumsi masih rapuh di tengah inflasi yang persisten.

Indikator inflasi utama Jepang juga kembali meningkat pada Maret untuk pertama kalinya dalam lima bulan.

Bank of Japan (BOJ) pada Selasa mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75% melalui keputusan yang terbelah, sehingga meningkatkan peluang kenaikan suku bunga pada Juni.

BOJ memperkirakan konsumsi rumah tangga cenderung stagnan akibat kenaikan harga, terutama energi, meski dukungan fiskal pemerintah dan kenaikan upah tetap membantu menjaga belanja masyarakat. (DK)