Laba Wilmar merosot 22,8% jadi US$265,6 juta di kuartal I
Kamis, 30 April 2026
SINGAPURA — Wilmar International membukukan laba bersih US$265,6 juta di kuartal pertama 2026, merosot 22,8% dari US$343,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba ini terjadi seiring gejolak harga komoditas global akibat perang Iran, serta volatilitas pasar energi.
Padahal pendapatan Wilmar naik 21,9% menjadi US$19,8 miliar di kuartal pertama, didorong lonjakan volume penjualan di seluruh segmen bisnis inti.
Penjualan produk makanan meningkat 22,3%, sementara produk pakan dan industri naik 11,7% mengutip dari The Business Times.
Wilmar menyebut konsolidasi pengolahan minyak nabati di India yaitu AWL Agri Business sejak Desember 2025, turut mendorong pertumbuhan volume penjualan secara tahunan.
Tanpa kontribusi AWL, volume keseluruhan tetap naik 7,7% menjadi 24,8 juta ton, dengan pertumbuhan pendapatan 7,6% menjadi US$17,44 miliar. Namun laba inti turun 23% menjadi US$264,2 juta.
Perusahaan menyebut salah satu penyebab utama adalah kerugian sementara yang belum terealisasi dari aktivitas lindung nilai (hedging), yang dipicu oleh perang Iran dan lonjakan volatilitas harga komoditas.
Wilmar mengatakan sebagian besar kerugian itu diperkirakan akan berbalik pada kuartal berikutnya, ketika komoditas fisik yang mendasari kontrak lindung nilai mulai dikirim.
Selain itu, kontribusi dari perusahaan asosiasi dan joint venture milik Wilmar di China, Eropa, dan Asia Tenggara juga melemah.
Segmen perkebunan dan penggilingan gula turut mencatat penurunan laba akibat harga minyak sawit yang lebih rendah, volume produksi yang turun, serta lemahnya kinerja bisnis secara menyeluruh.
Namun sebagian dari tekanan tersebut, tertahan oleh keuntungan penjualan joint venture di China dan kenaikan volume penjualan selama sejak awal tahun.
Wilmar menilai pertumbuhan volume pada kuartal ini “tertutupi” oleh tingginya volatilitas harga komoditas global.
Ke depan, Wilmar memperkirakan kondisi operasional hingga akhir 2026 akan sangat bergantung pada perkembangan ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan perdagangan global. (DK/KR)