Tarif Trump tekan ekspor India ke Amerika hingga anjlok 28,5%

Minggu, 30 November 2025

image

JAKARTA - Ekspor India ke pasar terbesarnya, Amerika Serikat, mengalami penurunan tajam akibat kenaikan tarif yang agresif.

Dikutip dari The Economic Times, Sabtu (29/11), pengiriman India ke AS anjlok 28,5 persen antara Mei–Oktober 2025, turun dari US$8,83 miliar menjadi US$6,31 miliar, menurut laporan Global Trade Research Initiative (GTRI).

Sebagai perbandingan, China saat ini menghadapi tarif sekitar 30 persen, sedangkan Jepang dikenai tarif 15 persen.

Kinerja Ekspor India per kjelompok tarif dibagi beberapa bagian.

  • 1. Barang bebas tarif (smartphone, farmasi, produk minyak bumi). Kelompok bebas tarif ini mencakup 40,3 persen ekspor India ke AS pada Oktober. Meski seharusnya paling “aman”, kategori ini tetap mengalami kontraksi 25,8 persen, turun dari US$3,42 miliar (Mei) menjadi US$2,54 miliar (Oktober), atau hilang US$881 juta.
  • 2. Produk padat karya dengan tarif 50 persen. Kategori ini mengalami penurunan paling dalam. India menjadi satu-satunya negara yang dikenai tarif 50 persen untuk produk padat karya seperti: perhiasan dan batu mulia, panel surya, tekstil dan pakaian, bahan kimia makanan laut. Kelompok ini menyumbang 52,1 persen ekspor Oktober, namun anjlok 31,2 persen, dari US$4,78 miliar menjadi US$3,29 miliar—hilang hampir US$1,5 miliar hanya dalam lima bulan.
  • 3. Smartphone: produk andalan yang ikut terpukul Produk smartphone—komoditas tunggal terbesar India ke AS—turun 36 persen, dari US$2,29 miliar (Mei) menjadi US$1,50 miliar (Oktober), atau kerugian hampir US$790 juta. Ekspor bulanan bahkan sempat jatuh ke bawah US$1 miliar pada Agustus–September sebelum pulih kembali pada Oktober.
  • 4. Produk lain antara lain: farmasi turun tipis 1,6 persen, minyak bumi turun 15,5 persen

Sementara logam (kena arif AS 50%) dan suku cadang otomotif (kena tarif AS 25%) alami penurunan lebih disebabkan melemahnya permintaan industri AS, bukan daya saing India, karena tarifnya sama untuk semua pemasok.

GTRI menilai pemerintah India perlu mengambil dua langkah utama.

  • Pertama. Mengaktifkan Export Promotion Mission (EPM). Meski EPM sudah diumumkan pada Maret dan disetujui Kabinet pada 12 November, program ini dinilai belum berjalan. Program reguler seperti Market Access Initiative dan Interest Equalisation Scheme juga belum menyalurkan pembayaran pada tahun fiskal berjalan. Dengan pagu tahunan di bawah Rs 4.200 crore, GTRI menilai EPM berisiko gagal tanpa: pedoman operasional segera, pemulihan penyaluran rutin, aturan kelayakan yang jelas,serta tenggat waktu yang pasti bagi eksportir.Kabinet India sebelumnya telah menyetujui EPM sebagai program unggulan dalam Anggaran 2025–26, dengan alokasi Rs 25.060 crore untuk periode 2025–26 hingga 2030–31, fokus pada UMKM, eksportir baru, dan sektor padat karya.
  • Kedua, Menekan AS untuk mencabut tambahan tarif 25 persen arif tambahan tersebut terkait kebijakan AS atas Rusia namun ikut diberlakukan terhadap produk India.Menurut GTRI, pencabutannya akan memangkas tarif efektif AS terhadap produk padat karya India dari 50 persen menjadi 25 persen, sehingga memberi ruang napas yang signifikan bagi eksportir.

GTRI menegaskan bahwa kedua langkah ini harus menjadi inti pemulihan daya saing ekspor India, sekaligus dasar untuk merestrukturisasi pembicaraan perdagangan dengan Amerika Serikat agar lebih “seimbang”. (BS)