Biaya militer Trump di Iran US$25 miliar, tekan Iran segera sepakat
Kamis, 30 April 2026

ISLAMABAD — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas langkah untuk mengurangi dampak dari kemungkinan blokade berbulan-bulan terhadap pelabuhan Iran bersama para eksekutif perusahaan minyak, sambil mendesak Teheran agar segera mencapai kesepakatan.
Menurut pejabat Gedung Putih pada Rabu, diskusi tersebut berfokus pada upaya menjaga stabilitas pasar energi global jika blokade terhadap ekspor minyak Iran harus berlangsung lebih lama.
Washington saat ini berupaya menekan ekspor minyak Iran melalui blokade laut guna memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, mengutip dari Reuters.
Pertemuan itu terjadi setelah kebuntuan dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung dua bulan.
DI sisi lain, perang ini juga menimbulkan beban besar bagi Amerika Serikat. Pejabat senior Pentagon menyebut biaya operasi militer sejauh ini telah mencapai US$25 miliar.
Harga minyak pun melonjak lebih dari 6% pada Rabu, dengan kontrak Brent menyentuh level tertinggi dalam satu bulan karena kekhawatiran blokade berkepanjangan.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik akibat perang yang semakin tidak populer. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya turun menjadi 34%, terendah dalam masa jabatannya saat ini.
Trump menekan Iran lewat media sosial dengan mengatakan Teheran harus segera “bertindak cerdas” dan menandatangani kesepakatan.
Ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Belum Ada Terobosan
Sementara itu, Pakistan sebagai mediator berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut. Sumber Pakistan mengatakan kedua pihak masih saling bertukar pesan terkait kemungkinan kesepakatan baru, meski belum ada terobosan besar.
Iran memperingatkan akan mengambil “tindakan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika blokade terhadap kapal-kapal terkait Iran terus berlanjut. Teheran juga menuntut pengakuan atas haknya memperkaya uranium untuk kebutuhan sipil.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh Trump berupaya memecah belah rakyat Iran dan memaksa negara itu menyerah melalui tekanan ekonomi dan blokade.
Sementara itu, tekanan ekonomi di Iran semakin berat. Mata uang rial jatuh ke rekor terendah baru, sementara inflasi tahunan melonjak tajam. Bank sentral Iran melaporkan inflasi periode 20 Maret–20 April mencapai 65,8%. (DK)
ISLAMABAD — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas langkah untuk mengurangi dampak dari kemungkinan blokade berbulan-bulan terhadap pelabuhan Iran bersama para eksekutif perusahaan minyak, sambil mendesak Teheran agar segera mencapai kesepakatan.
Menurut pejabat Gedung Putih pada Rabu, diskusi tersebut berfokus pada upaya menjaga stabilitas pasar energi global jika blokade terhadap ekspor minyak Iran harus berlangsung lebih lama.
Washington saat ini berupaya menekan ekspor minyak Iran melalui blokade laut guna memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, mengutip dari Reuters.
Pertemuan itu terjadi setelah kebuntuan dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung dua bulan.
Harga minyak pun melonjak lebih dari 6% pada Rabu, dengan kontrak Brent menyentuh level tertinggi dalam satu bulan karena kekhawatiran blokade berkepanjangan.
Trump kembali menekan Iran lewat media sosial dengan mengatakan Teheran harus segera “bertindak cerdas” dan menandatangani kesepakatan.
Ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Sementara itu, Pakistan sebagai mediator berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut. Sumber Pakistan mengatakan kedua pihak masih saling bertukar pesan terkait kemungkinan kesepakatan baru, meski belum ada terobosan besar.
Iran memperingatkan akan mengambil “tindakan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika blokade terhadap kapal-kapal terkait Iran terus berlanjut.
Teheran juga menuntut pengakuan atas haknya memperkaya uranium untuk kebutuhan sipil.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh Trump berupaya memecah belah rakyat Iran dan memaksa negara itu menyerah melalui tekanan ekonomi dan blokade.
Di sisi lain, tekanan ekonomi di Iran semakin berat.
Mata uang rial jatuh ke rekor terendah baru, sementara inflasi tahunan melonjak tajam. Bank sentral Iran melaporkan inflasi periode 20 Maret–20 April mencapai 65,8%.
Perang ini juga menimbulkan beban besar bagi Amerika Serikat.
Pejabat senior Pentagon menyebut biaya operasi militer sejauh ini telah mencapai US$25 miliar.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik akibat perang yang semakin tidak populer. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya turun menjadi 34%, terendah dalam masa jabatannya saat ini. (DK)