Harga minyak melonjak, Brent tembus US$120 per barel

Kamis, 30 April 2026

image

NEW YORK - Harga minyak naik pada Kamis (30/4) dan melanjutkan reli tajam pekan ini, dengan Brent sempat menembus US$120 per barel karena belum ada tanda penyelesaian konflik Amerika Serikat-Iran maupun pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kontrak Brent naik 1,5% ke US$119,75 per barel setelah sebelumnya menyentuh US$120,34, level tertinggi sejak Juni 2022. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,3% menjadi US$107,25 per barel, mengutip investing.

Kenaikan harga minyak dipicu laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah menyiapkan blokade laut berkepanjangan terhadap Iran.

Kekhawatiran pasar semakin besar setelah sejumlah eksekutif perusahaan minyak besar AS dilaporkan bertemu Trump di Gedung Putih untuk membahas cara membatasi dampak konflik terhadap konsumen Amerika.

Blokade laut berkepanjangan berpotensi membuat Iran terus menutup Selat Hormuz sebagai balasan. 

Jika jalur pelayaran ini tetap terganggu, pasokan minyak global diperkirakan semakin tertekan karena sekitar 20% suplai minyak dunia melewati wilayah tersebut.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah melambat drastis sejak Iran memblokir jalur itu pada akhir Februari.

Namun, laporan pada Rabu menyebut Trump juga meminta bantuan negara lain untuk membentuk koalisi internasional baru guna membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Trump berulang kali mendesak negara-negara lain ikut membantu, meski sebagian besar sekutu utama AS menolak keterlibatan langsung. 

Ia juga dikabarkan mengkritik anggota NATO karena tidak membantu AS dan Israel secara militer selama konflik berlangsung.

Perundingan antara AS dan Iran juga belum menghasilkan kemajuan akibat perbedaan tajam terkait program nuklir Iran. 

Meski Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, kedua pihak masih menolak upaya negosiasi baru.

Harga minyak sempat tertahan setelah Uni Emirat Arab mengumumkan keluar dari OPEC pekan ini. Namun pasar menilai UEA belum mampu menaikkan produksi dalam waktu dekat karena gangguan akibat perang Iran. (DK)