UEA keluar dari OPEC, apa prediksi Goldman Sachs?
Kamis, 30 April 2026

NEW YORK - Goldman Sachs menilai keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC akan meningkatkan risiko kenaikan pasokan minyak dalam jangka menengah, meski dampaknya dalam jangka pendek relatif terbatas.
UEA pada Selasa mengumumkan rencana keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei, dilansir dari Reuters.
Langkah ini dinilai dapat melemahkan kendali kelompok produsen tersebut terhadap pasokan minyak global, serta memberi Abu Dhabi ruang lebih besar untuk menaikkan produksi setelah jalur ekspor di kawasan Teluk pulih.
Menurut Goldman, keputusan ini merupakan hasil dari pembahasan panjang terkait kuota produksi UEA, serta imbas dinamika geopolitik saat ini.
UEA disebut menghadapi tekanan besar akibat serangan dari Iran, yang juga merupakan anggota OPEC namun dibebaskan dari pembatasan kuota produksi.
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Rabu setelah negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran menemui jalan buntu, yang memicu kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah semakin berkepanjangan.
Goldman menilai penutupan Selat Hormuz saat ini masih membatasi output UEA.
Namun, keluarnya UEA dari OPEC membuka potensi tambahan produksi yang lebih besar, dibanding proyeksi dasar bank tersebut hingga 3,8 juta barel per hari pada Oktober 2026, dari sekitar 3,6 juta barel per hari sebelum perang.
Bank investasi asal AS itu sempat memperkirakan kapasitas produksi potensial UEA, sebenarnya bisa mencapai lebih dari 4,5 juta barel per hari pada Februari 2026.
Goldman juga memperkirakan total kehilangan produksi minyak mentah kawasan Teluk berpotensi tembus 1,83 miliar barel hingga Desember 2026, sementara stok minyak global perlu diisi kembali setelah Selat Hormuz kembali dibuka.
Sementara itu ADNOC sebagai produsen minyak utama bagi UEA, menargetkan kapasitas produksinya mencapai 5 juta barel per hari pada 2027. (DK/KR)