Rupiah dan IHSG ambles tersengat harga minyak
Kamis, 30 April 2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,46% atau 174,68 poin ke level 6.926,55 pada perdagangan sesi pertama Kamis (30/4).
Posisi itu setara dengan level terendah bagi IHSG dalam sembilan bulan terakhir atau sejak Juli 2025.
Total transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp8,78 triliun, melibatkan perdagangan 21,56 miliar lembar saham.
Sebanyak 614 saham bergerak melemah, 95 saham menguat dan 94 lainnya stagnan.
Indeks sektoral di bursa juga kompak melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor Basic Materials yang turun lebih dari 4,50%.
Di tengah pelemahan indeks, investor asing mencatatkan net sell Rp977,08 miliar.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 0,35% ke level Rp17.380 per dolar Amerika Serikat (AS), rekor terendah bagi mata uang Indonesia sepanjang sejarah.
Pelemahan ini menambah total penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi 3,98% sejak awal tahun.
Ahli Strategi di BNY, Wee Khoon Chong, mengatakan pelemahan nilai tukar mata uang Asia termasuk rupiah, kemungkinan akan mendorong evaluasi bank sentral dalam upaya intervensi di pasar valas.
“Bank sentral kemungkinan akan menyesuaikan kembali besarnya intervensi mata uang untuk menjaga cadangan devisa,” jelas Wee, seperti dikutip Bloomberg.
Ia menambahkan lonjakan harga minyak saat ini jadi fokus utama pelaku pasar, dalam mengambil posisi di pasar saham maupun valas.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya mengaku telah meningkatkan intervensi di pasar valas, agar rupiah tetap stabil.
Salah satunya dengan menahan suku bunga acuan tetap di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, yang digelar pekan lalu.
Namun sejak keputusan itu, rupiah justru melemah 1,42% atau dari Rp17.137 per dolar AS.
Dari pasar komoditas, kontrak berjangka untuk minyak mentah WTI naik 2,10% ke US$109,12 per barel. Sementara kontrak berjangka untuk minyak Brent melesat 4,12% ke US$122 per barel. (KR)