Kredit melambat 1,7%, laba Citi Indonesia masih tumbuh 9,6% di 2025
Kamis, 30 April 2026
JAKARTA – Citibank N.A. Indonesia atau Citi Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,8 triliun pada akhir 2025, naik 9,6% secara tahunan, seiring peningkatan pendapatan bunga bersih.
Berdasarkan laporan keuangan per 2025, Citi Indonesia mencatatkan pendapatan bunga bersih tumbuh 7,3% mencapai Rp4,2 triliun – dengan net interest margin merosot tipis dari 4,9% menjadi 4,77%.
Padahal, penyaluran kredit Citi Indonesia sepanjang 2025 masih sedikit lesu, turun 1,7% menjadi Rp26,9 triliun. Namun, capaian ini jauh membaik dibandingkan penurunan kredit hingga 10,7% pada kuartal III 2025.
Menurut Batara Sianturi, Chief Executive Officer Citi Indonesia, perbaikan signifikan ini didukung oleh meningkatnya aktivitas penyaluran kredit di tiga sektor.
“Tiga sektor yang mendukung perbaikan: sektor manufacturing naik 2,24%; kemudian sektor telekomunikasi naik 2,16%, kemudian sektor agribisnis naik 1,22%,” ungkap Batara pada IDNFinancials di Jakarta, Kamis (30/4).
Sebagai catatan, Citi Indonesia telah menyalurkan fasilitas pinjaman perdagangan bilateral bergulir sebesar US$30 juta kepada emiten sawit Grup Sinar Mas, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), pada tahun 2025.
Bank ini juga menyalurkan kredit modal kerja bilateral bergulir senilai Rp1 triliun kepada emiten infrastruktur telekomunikasi Grup Saratoga, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Per akhir 2025, total aset Citi Indonesia menyentuh Rp96,97 triliun, naik 10,6% secara tahunan. Dana Pihak Ketiga (DPK) bank multinasional ini juga tumbuh 7,9% sepanjang 2025, menjadi total Rp60,2 triliun.
Seiring dengan kredit yang melemah, maka rasio loan-to-deposit (LDR) turun ke 41,99% pada akhir 2025. Namun, NPL gross maupun net terjaga relatif stabil di level 0,03%.
Pipeline kredit 2026 Citi Indonesia
Untuk tahun 2026, Batara mengungkapkan bahwa pipeline klien Citi Indonesia di tahun ini didominasi perusahaan lokal.
“Jadi yang paling besar itu permintaannya di pipeline kami itu sekarang dari local corporates, baru disusul multinational, kemudian commercial banking, dan juga trade loans,” rincinya dalam gelaran Konferensi Pers Kinerja Citi Indonesia 2025, Kamis (30/4).
Namun, berdasarkan industri, Citi Indonesia mencatat permintaan kredit yang tinggi dari telco dan komunikasi.
Selain itu, industri keuangan – baik bank maupun non-bank – juga membukukan demand kredit yang tinggi, disusul sektor mining & construction, industri ritel, dan bahan kimia (chemicals).
Ke depannya, meski volatilitas masih menghantui pasar global di tahun 2026, Batara menegaskan bahwa Citi Indonesia sebagai multinational bank akan terus memantau kebutuhan klien dan nasabahnya, yang dapat berperan baik sebagai importir maupun eksportir.
“Seiring kami menavigasi pasar yang volatil, yang terdampak daipada volatilitas global dan regional, kami harus tetap peka terhadap kebutuhan nasabah kami,” pungkas Batara. (ZH)