Pendapatan naik, TOBA malah rugi US$9,06 juta hingga Maret 2026
Kamis, 30 April 2026

JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan rugi sebesar US$9,06 juta atau sekitar Rp156,9 miliar (kurs JISDOR Rp17.324 per dolar AS) sepanjang Januari–Maret 2026.
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan, Kamis (30/4) angka ini turun 15,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$60,05 juta.
Meskipun rugi, Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$82,29 juta atau sekitar Rp1,43 triliun sepanjang Januari–Maret 2026.
Capaian ini meningkat 20,6% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$71,52 juta.
Direktur TBS, Juli Oktariana, menjelaskan bahwa kontribusi terbesar terhadap pendapatan berasal dari lini bisnis pengelolaan limbah.
Segmen ini menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi dan 93% dari total EBITDA yang telah disesuaikan.
Pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah melonjak signifikan, naik 447,69% atau sekitar 5,5 kali lipat, dari US$9,4 juta pada kuartal I 2025 menjadi US$51,9 juta pada kuartal I 2026.
Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa transformasi perusahaan dari bisnis batu bara menuju bisnis hijau berjalan ke arah yang tepat.
"Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan TBS. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (30/4).
Pada segmen energi terbarukan, fasilitas pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 megawatt (MW) milik perseroan telah beroperasi penuh dan menghasilkan pendapatan sebesar US$3,2 juta.
Sementara itu, proyek PLTS terapung berkapasitas 46 megawatt-peak (MWp) tengah dalam tahap pembangunan dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Di sisi lain, pada segmen batu bara yang mulai ditinggalkan, perseroan fokus meningkatkan efisiensi. Biaya operasional tunai berhasil ditekan 5,8% menjadi US$42,5 per ton.
Upaya ini menjaga ketahanan bisnis di tengah fluktuasi harga pasar, dengan margin laba kotor pertambangan tetap stabil di level 15,8% pada kuartal I 2026.
Dari sisi keuangan, efisiensi tersebut turut memperbaiki arus kas operasional, dari sebelumnya negatif US$2,9 juta pada 2025 menjadi positif US$9,9 juta pada 2026.
Dengan kondisi kas yang membaik, perusahaan optimistis mampu mendukung ekspansi bisnis hijau sebagai fokus utama ke depan.
"Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta pada kuartal pertama 2026 dan manajemen modal kerja yang disiplin, TBS memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” jelasnya.
Pada perdagangan saham hari ini, Kamis (30/4), hingga pukul 15.03 WIB, harga saham TOBA turun 1,72% ke level Rp570 per lembar.
Dalam sebulan terakhir saja, harga saham TOBA turun 2,56% dan anjlok 25% sejak awal 2026. (DK)