Amerika bersiap serang Iran, harga minyak melonjak cetak rekor 4 tahun
Kamis, 30 April 2026

JAKARTA - Harga minyak melonjak pada Kamis, dengan Brent menyentuh level tertinggi dalam empat tahun setelah laporan menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi militer baru terhadap Iran.
Seperti dikutip Investing, Kontrak Brent Juni naik 6,8% ke US$126 per barel pada 00:26 ET (04:26 GMT), level tertinggi sejak Maret 2022 saat awal krisis Rusia-Ukraina. Kontrak ini akan berakhir pada Kamis. Sementara itu, Brent Juli naik 3,4% ke US$114,19 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni naik 2,7% ke US$109,81 per barel, dan kontrak Juli menguat 2,7% ke US$102,84 per barel.
Menurut Reuters, mengutip laporan Axios pada Rabu (29/4/26) yang mengungkapkan hal tersebut dari informasi seorang sumber. Namun, Gedung Putih dan Komando Pusat AS tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait hal tersebut.
CENTCOM telah menyiapkan rencana untuk gelombang serangan singkat dan kuat terhadap Iran, kemungkinan termasuk target infrastruktur, menurut Axios yang mengutip sumber.
Gencatan senjata yang rapuh dalam perang Iran dimulai tiga minggu lalu. Perang tersebut dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang memiliki pangkalan AS. Serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan Israel di Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi.
Sejumlah opsi yang dibahas meliputi gelombang serangan ke Iran, operasi pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, hingga operasi pasukan khusus untuk menyita stok uranium Iran. Langkah ini dipertimbangkan untuk mengakhiri kebuntuan antara Washington dan Teheran, setelah upaya perundingan damai dalam beberapa pekan terakhir tidak membuahkan hasil.
Aksi militer baru berpotensi mengakhiri gencatan senjata yang berlangsung tanpa batas waktu dan memicu balasan dari Iran, yang dapat meningkatkan ketidakstabilan di Timur Tengah. Konflik memasuki bulan ketiga, dengan arus pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas setelah Iran memblokir jalur tersebut sejak awal perang. Gangguan pasokan ini mendorong kenaikan tajam harga minyak.
Laporan Wall Street Journal juga menyebut Trump berupaya membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali jalur tersebut. Namun, sekutu utama AS sejauh ini belum menunjukkan dukungan signifikan. Trump sebelumnya mendesak negara lain untuk terlibat dalam pembukaan Hormuz, serta mengkritik anggota NATO yang tidak memberikan dukungan militer pada fase awal konflik.
Kenaikan harga minyak sempat tertahan setelah Uni Emirat Arab menyatakan akan keluar dari OPEC, yang berpotensi meningkatkan produksi. Namun, dalam jangka pendek, peningkatan produksi dinilai terbatas akibat gangguan dari konflik Iran.(DH)