Venezuela: Amerika rusak kedaulatan ruang udara
Minggu, 30 November 2025

JAKARTA -- Pemerintah Venezuela menuding Amerika Serikat secara sepihak menangguhkan penerbangan pemulangan migran dan berupaya melanggar kedaulatan ruang udaranya, setelah Presiden Donald Trump menyatakan di media sosial bahwa ruang udara negara tersebut harus dianggap “sepenuhnya ditutup.”
Seperti dikutip CBS News, dalam pernyataan yang dirilis Sabtu (29/11), pemerintah Venezuela menuntut “penghormatan tanpa batas” terhadap ruang udaranya sebagai respons atas unggahan Trump.
“Pernyataan seperti itu merupakan tindakan bermusuhan, sepihak, dan sewenang-wenang, tidak sesuai dengan prinsip dasar hukum internasional, serta menjadi bagian dari kebijakan agresi permanen terhadap negara kami,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
Sebelumnya, Trump menulis di Truth Social bahwa semua maskapai, pilot, pengedar narkoba, dan pelaku perdagangan manusia harus menganggap ruang udara “di atas dan mengelilingi” Venezuela sebagai “sepenuhnya ditutup”—sebuah sinyal peningkatan tekanan Washington terhadap Presiden Nicolás Maduro.
Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar terkait unggahan Trump. Tidak jelas apakah pernyataan itu menandai kebijakan baru atau sekadar penguatan pesan kampanye terhadap Maduro, yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi beberapa serangan AS di Laut Karibia dan Pasifik timur terhadap kapal kecil yang dituduh membawa narkoba, serta peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan tersebut. Lebih dari 80 orang tewas sejak awal September.
Pekan lalu, sejumlah maskapai internasional membatalkan penerbangan ke Venezuela setelah Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan peringatan agar pilot berhati-hati ketika terbang di sekitar negara tersebut karena meningkatnya aktivitas militer.
Tiga maskapai AS yang biasa melintasi ruang udara Venezuela mengatakan kepada CBS News bahwa mereka telah lama menghindari wilayah udara itu. FAA, meski yurisdiksinya terbatas pada AS dan wilayah-wilayahnya, rutin memperingatkan pilot mengenai risiko terbang di zona konflik di seluruh dunia.
Dalam advis terbaru, FAA bersama sejumlah negara dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mendesak pesawat sipil berhati-hati karena “memburuknya situasi keamanan dan meningkatnya aktivitas militer di dalam atau sekitar Venezuela.”
“Tidak ada otoritas di luar institusi Venezuela yang berwenang mengintervensi, memblokir, atau membatasi penggunaan ruang udara nasional,” lanjut pernyataan pemerintah Venezuela, mengutip aturan ICAO. Pemerintah juga menyebut penerbangan pemulangan migran telah “ditangguhkan secara sepihak” oleh AS.
FAA dan ICAO belum memberikan komentar atas laporan tersebut.
Pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Maduro. AS tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin sah Venezuela, negara kaya minyak yang terpuruk secara ekonomi, dan ia juga menghadapi tuduhan narkoterorisme di AS.
Pasukan AS sebelumnya melakukan penerbangan pembom di dekat Venezuela, sementara kapal induk USS Gerald R. Ford—kapal induk tercanggih AS—telah ditempatkan di kawasan tersebut, menjadi pengerahan terbesar angkatan laut AS di wilayah itu dalam beberapa dekade. Kehadiran Ford mendukung operasi “Operation Southern Spear,” yang melibatkan hampir selusin kapal perang dan sekitar 12.000 personel.
Serangan AS terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut kini menghadapi tekanan untuk diawasi lebih ketat setelah The Washington Post melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengeluarkan perintah lisan agar seluruh kru dibunuh dalam serangan 2 September terhadap kapal yang diduga membawa narkoba.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Senator Republik Roger Wicker, bersama anggota Demokrat teratas, Senator Jack Reed, menyatakan pada Jumat bahwa komite akan melakukan pengawasan ketat untuk memastikan semua fakta terungkap.
Menurut laporan The New York Times, Trump dan Maduro disebut telah melakukan komunikasi, meski Gedung Putih menolak berkomentar. Tim Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi militer maupun nonmiliter terhadap Venezuela, termasuk operasi rahasia CIA yang disahkan presiden bulan lalu. (BS)