SMDR berencana bagikan dividen final Rp12 per saham, yield capai 3,4%

Kamis, 30 April 2026

image

JAKARTA - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) berencana membagikan total dividen sebesar Rp12 per saham untuk tahun buku 2025.

Jumlah tersebut terdiri dari dividen interim Rp2,5 per saham yang telah dibayarkan sebelumnya dan dividen final sebesar Rp9,5 per saham yang akan diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Juni 2026.

“Untuk tahun buku 2025, laba bersih perusahaan mencapai US$52,1 juta dengan earning per share sebesar Rp52,4, meningkat sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan kinerja tersebut, kami mengusulkan total dividen sebesar Rp12 per saham,” ujar Direktur Utama SMDR, Bani Maulana Mulia, dalam paparan kinerja keuangan kuartal I 2026 secara live, Kamis (30/4).

Mengacu pada harga saham SMDR saat penutupan perdagangan hari ini, Kamis (30/4) sebesar Rp348 per saham, maka yield dividen total tahun buku 2025 tercatat sekitar 3,4%.

Bani menambahkan pembagian dividen ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara imbal hasil kepada pemegang saham dan kebutuhan pendanaan ekspansi.

Selain rencana dividen, Perseroan juga melaporkan kinerja kuartal I 2026 dengan pendapatan sebesar US$184,3 juta, tumbuh 2% secara tahunan dibandingkan US$181,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

EBITDA Perseroan meningkat 13% menjadi US$54,9 juta, meskipun laba bersih turun hampir 35% menjadi US$10,1 juta pada kuartal I 2026 jika dibandingkan US$15,5 juta pada kuartal I 2025.

Bani menjelaskan bahwa penurunan laba bersih Perseroan akibat kenaikan beban penyusutan dari penambahan armada kapal baru.

“Penurunan laba bersih bersifat sementara, seiring investasi jangka panjang pada aset produktif yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional di masa mendatang,” katanya.

Sebagai informasi, Perseroan terus memperkuat strategi ekspansi bisnisnya pada 2026 melalui kombinasi pengembangan armada, diversifikasi rute internasional, serta penguatan lini bisnis galangan kapal, di tengah kondisi pasar kontainer yang relatif stabil.

Perseroan mengungkapkan akan menerbitkan sukuk ijarah tahap ketiga senilai sekitar Rp700 miliar untuk mendanai penambahan tiga unit kapal baru, yang terdiri dari dua kapal chemical tanker dan satu kapal peti kemas.

“Dana tersebut juga dialokasikan untuk mendukung proyek kapal yang tengah dibangun di Tiongkok, sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat kapasitas armada,” tambah Bani.

Dari sisi operasional global, Perseroan juga tengah menyiapkan pengembangan rute baru ke India, Jepang, dan Eropa pada 2026.

Bani menegaskan bahwa seluruh rute akan dikelola secara fleksibel dan berbasis evaluasi harian, mingguan, hingga bulanan untuk menjaga efisiensi biaya dan menghindari tekanan terhadap margin operasional.

Di tengah ekspansi tersebut, pasar kontainer global disebut masih berada dalam kondisi stabil pada awal 2026, dengan tarif pengangkutan yang cenderung bergerak datar.

“Perseroan menilai kondisi ini memberikan ruang bagi stabilisasi kinerja operasional, meski fluktuasi tetap dapat terjadi mengikuti dinamika perdagangan dunia,” ujarnya.

Selain bisnis pelayaran, penguatan juga dilakukan pada sektor galangan kapal. Proyek shipyard di Madura dilaporkan terus berjalan sesuai jadwal dan mulai dapat dimanfaatkan, baik untuk perawatan kapal (maintenance dan docking) maupun pembangunan kapal baru.

Fasilitas ini juga telah menerima pesanan dari pihak ketiga, sehingga tidak hanya melayani kebutuhan internal perusahaan, tetapi juga pelanggan eksternal.

“Industri galangan kapal di Indonesia masih memiliki potensi besar, seiring terbatasnya kapasitas nasional dalam memenuhi kebutuhan armada domestik. Karena itu, perusahaan membuka peluang untuk ekspansi lebih lanjut, baik melalui pembangunan fasilitas baru maupun potensi akuisisi galangan yang sudah ada,” imbuhnya.

Pada perdagangan saham hari ini, Kamis (30/4), harga saham SMDR turun 3,33% ke level Rp348 per lembar. Namun, dalam sebulan terakhir saham SMDR naik 0,58% dan merosot 21,27% sejak awal 2026. (DK)