Meta siapkan listrik dari luar angkasa untuk AI, target operasi 2030

Jumat, 01 Mei 2026

image

JAKARTA – Meta Platforms, perusahaan milik Mark Zuckerberg, mengumumkan rencana untuk menangani pusat data kecerdasan buatan (AI) dengan sinar matahari yang dipancarkan dari luar angkasa.

Dalam rilis pers pada Senin, perusahaan menyatakan akan menempatkan satelit pengumpul surya di orbit geosinkron sekitar 22.000 mil di atas Bumi untuk memancarkan energi ke pengumpul di permukaan.

Rencana ini merupakan bagian dari dua kemitraan baru guna mengatasi lonjakan permintaan energi dari infrastruktur AI yang berkembang pesat. Para analis industri sebelumnya telah memperingatkan bahwa kebutuhan tersebut mulai memberikan tekanan signifikan pada jaringan listrik.

Meta telah memesan kapasitas hingga 1 gigawatt (GW) dari startup Overview Energy. Perusahaan juga menjalin kesepakatan dengan Noon Energy untuk penyimpanan energi durasi sangat panjang hingga 1 GW/100 gigawatt-hour (GWh).

Seperti dilaporkan tomshardware.com oleh jurnalis Etiido Uko Kamis (30/04), raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google saat ini berinvestasi agresif dalam energi surya, angin, panas bumi, dan nuklir guna mendukung kebutuhan AI.

Namun, energi terbarukan masih menghadapi masalah intermitensi. Pembangkit surya hanya menghasilkan listrik saat ada sinar matahari, sementara angin bergantung pada kondisi cuaca. Di sisi lain, penyediaan listrik bersih 24 jam menggunakan baterai skala besar masih mahal dan menantang.

Kemitraan Meta dengan Overview Energy mencoba mengatasi kendala tersebut dengan memindahkan pengumpulan energi surya ke luar angkasa, di mana paparan sinar matahari relatif konstan di orbit 22.000 mil.

Secara teknis, satelit akan memanen energi surya di angkasa dan memancarkannya ke Bumi menggunakan cahaya inframerah dekat berintensitas rendah (low-intensity near-infrared light). Fasilitas penerima kemudian mengubah cahaya tersebut menjadi listrik dan menyalurkannya ke jaringan yang ada.

Overview Energy mengklaim teknologi ini dapat diskalakan lebih cepat jika terbukti layak secara komersial. Ladang surya di Bumi yang biasanya tidak aktif pada malam hari secara teoretis dapat terus menghasilkan listrik sepanjang waktu.

Meski konsep tenaga surya berbasis luar angkasa telah dikembangkan selama beberapa dekade, implementasi komersial dalam skala besar belum tercapai. Meta menargetkan penyebaran hingga 1 GW sistem energi orbit-to-grid, dengan demonstrasi orbital pertama pada 2028 dan potensi operasional komersial sekitar 2030.

Sementara itu, kemitraan kedua difokuskan pada penyimpanan energi. Sistem baterai lithium-ion dinilai efektif untuk durasi pendek, tetapi belum optimal untuk pasokan listrik berkelanjutan selama berhari-hari.

Teknologi Noon Energy diklaim mampu menyediakan lebih dari 100 jam penyimpanan menggunakan sel bahan bakar oksida padat reversibel (reversible solid oxide fuel cells) dan sistem berbasis karbon.

Dalam tahap awal, Meta akan memulai proyek percontohan sebesar 25 megawatt (MW)/2,5 GWh yang ditargetkan beroperasi pada 2028.

Penyimpanan durasi panjang menjadi semakin penting seiring meningkatnya porsi energi terbarukan dalam jaringan listrik. Teknologi ini memungkinkan kelebihan energi saat produksi puncak disimpan dan digunakan saat pasokan menurun.

Meta menyatakan kedua kemitraan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengamankan pasokan energi. Perusahaan telah mengontrak lebih dari 30 GW energi terbarukan serta mendukung proyek panas bumi dan nuklir, termasuk kapasitas nuklir sebesar 7,7 GW. (SF)