Pendapatan Google Cloud tembus 18%, dominasi search engine berakhir?
Jumat, 01 Mei 2026

JAKARTA – Bisnis komputasi awan (cloud computing) Google kini menyumbang sekitar 18% dari keseluruhan bisnis perusahaan induknya, Alphabet Inc..
Dikutip dari fortune.com (29/04/2026), Google Cloud menjadi sorotan utama dalam laporan pendapatan kuartal pertama Alphabet yang dirilis pada Rabu.
Divisi ini mencatat pertumbuhan pendapatan 63% secara tahunan menjadi US$20 miliar. Sejumlah eksekutif, termasuk CEO Sundar Pichai, menyebut lonjakan tersebut didorong oleh permintaan kecerdasan buatan (AI).
Kinerja tersebut disambut positif oleh investor, yang mendorong saham Alphabet naik sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam kerja (after-hours trading).
Pertumbuhan pesat ini membawa Google Cloud ke titik infleksi, di mana divisi tersebut berpotensi menyumbang hampir seperlima dari total pendapatan perusahaan dalam satu hingga dua kuartal ke depan.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu kontribusi Google Cloud masih berada di level 13,6%, dan pada kuartal pertama 2024 sekitar 11,8%.
Tidak hanya pendapatan, laba operasional (operating income) dari bisnis ini juga melonjak tiga kali lipat menjadi US$6,6 miliar. Margin operasinya meningkat signifikan dari 9,4% menjadi 32,9% pada kuartal pertama tahun ini.
Kinerja tersebut didorong oleh tingginya permintaan AI, dengan tumpukan pesanan (backlog) Google Cloud dilaporkan mencapai US$460 miliar.
Meski demikian, bisnis periklanan tetap menjadi tulang punggung perusahaan. Pada tiga bulan pertama tahun ini, divisi iklan menghasilkan sekitar US$77 miliar, naik sekitar 16% secara tahunan.
Portofolio ini mencakup iklan video di YouTube, iklan tampilan di berbagai situs, serta layanan iklan pada produk seperti Gmail dan Maps.
Sejumlah pengamat menilai pemanfaatan AI justru akan semakin memperkuat efektivitas bisnis iklan tersebut.
Di sisi lain, pertumbuhan bisnis awan juga memunculkan dinamika internal. Google, yang sejak berdiri pada 1998 berfokus pada mesin pencari (search engine) kini menghadapi pergeseran budaya organisasi.
Divisi cloud dipimpin oleh Thomas Kurian, mantan eksekutif Oracle Corporation, dengan pendekatan yang lebih berorientasi penjualan korporasi.
Hal ini menciptakan kontras dengan budaya teknis yang selama ini mendominasi perusahaan. Dinamika tersebut dinilai akan menjadi faktor penting dalam perkembangan bisnis ke depan, termasuk dalam proses suksesi kepemimpinan.
Namun, risiko tetap ada. Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika momentum AI melambat, pertumbuhan bisnis cloud Google berpotensi kembali tertekan. (SF)