UEA minta warga segera keluar Iran. AS siap kuasai Hormuz sebagian?
Jumat, 01 Mei 2026

DUBAI – Iran menegaskan bahwa tidak realistis mengharapkan tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat dan Israel dalam waktu singkat.
“Mengharapkan mencapai hasil dalam waktu singkat, siapa pun mediatornya, menurut saya tidak terlalu realistis,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Kamis malam (30/4), seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya meminta Teheran melalui media sosial untuk segera “bertindak cerdas” dan menandatangani kesepakatan.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan domestik. Ia diburu tenggat waktu yang ditetapkan Kongres AS untuk mengakhiri perang atau mengajukan alasan perpanjangan berdasarkan Resolusi Kewenangan Perang 1973. Batas waktu tersebut jatuh pada 1 Mei.
Namun, tenggat itu diperkirakan berlalu tanpa mengubah arah konflik, setelah seorang pejabat senior pemerintah menyatakan bahwa, dalam konteks resolusi tersebut, permusuhan dianggap telah berakhir sejak gencatan senjata April antara Teheran dan Washington.
CENTCOM Siapkan SeranganTerlepas dari kompleksitas politik yang dihadapi Trump di dalam negeri, armada Amerika disebut tetap menyiapkan opsi militer terhadap Iran.
Presiden Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) terkait rencana baru kemungkinan aksi militer. Hal ini dilaporkan Reuters, mengutip Axios pada Rabu (29/4/2026), berdasarkan sumber yang mengetahui rencana tersebut.
CENTCOM disebut telah menyiapkan skenario gelombang serangan singkat namun intens, yang berpotensi menyasar infrastruktur Iran. Hingga kini, Gedung Putih dan pihak militer belum memberikan komentar resmi.
Menanggapi rencana tersebut, Iran memperingatkan akan membalas dengan “serangan panjang dan menyakitkan” terhadap posisi dan armada Amerika.
Iran juga kembali menegaskan klaimnya atas Selat Hormuz, yang semakin memperumit upaya AS membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa setiap serangan baru dari AS, bahkan yang berskala terbatas, akan memicu respons besar.
Komandan Angkatan Udara Antariksa Iran, Majid Mousavi, mengatakan: “Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, dan kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda.”
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Teheran akan mengakhiri “penyalahgunaan musuh” atas jalur perairan tersebut di bawah pengelolaan baru.
“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya tidak memiliki tempat di sana, kecuali di dasar perairannya,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Warga UEA Diminta Tinggalkan IranDi lapangan, ketegangan masih berlangsung. Aktivitas pertahanan udara dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Teheran pada Kamis malam, menurut kantor berita Mehr.
Kantor berita Tasnim juga melaporkan sistem pertahanan udara Iran sedang menghadapi drone kecil dan pesawat pengintai tanpa awak.
Uni Emirat Arab pada hari yang sama melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta warga yang masih berada di negara-negara tersebut untuk segera pulang, dengan alasan situasi regional yang memburuk.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir. Ia juga menyatakan harga bensin—isu penting bagi Partai Republik menjelang pemilu sela November—akan “turun drastis” setelah perang berakhir.
Meski mengkritik Iran atas dugaan pelanggaran HAM, Trump menyatakan tidak keberatan jika Iran tetap berpartisipasi dalam Piala Dunia mendatang di Amerika Serikat, setelah Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan keikutsertaan negara tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan tahun, dampaknya akan signifikan terhadap ekonomi global.
“Semakin lama arteri vital ini tersumbat, semakin sulit membalikkan kerusakan,” ujarnya di New York.
Opsi Kuasai Sebagian HormuzAxios juga melaporkan bahwa salah satu opsi yang dipertimbangkan AS adalah penggunaan pasukan darat untuk menguasai sebagian Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran komersial.
Selain itu, Trump disebut mempertimbangkan memperpanjang blokade atau bahkan mendeklarasikan kemenangan sepihak.
Sebagai bagian dari skenario de-eskalasi, Departemen Luar Negeri AS dikabarkan mengundang negara-negara mitra untuk bergabung dalam koalisi baru bernama Maritime Freedom Construct, guna menjamin kebebasan navigasi di selat tersebut.
Prancis, Inggris, dan negara lain telah melakukan pembicaraan terkait kemungkinan kontribusi, namun menyatakan keterlibatan hanya akan dilakukan jika konflik benar-benar berakhir.
Sementara itu, Pakistan sebagai mediator disebut terus berupaya mencegah eskalasi, di tengah komunikasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran terkait peluang kesepakatan. (YS/MT)
Terkait: 1. Bos CENTCOM Brad Cooper akan briefing Trump, siapkan serangan? 2. Biaya perang Trump sudah US$25 miliar, tekan Iran agar segera sepakat. 3. Jelang tenggat Kongres