Blokade Hormuz tekan 20% energi dunia, Iran siap gempur AS
Sabtu, 02 Mei 2026

JAKARTA - Seorang pejabat senior Uni Emirat Arab menegaskan bahwa Iran tidak dapat dipercaya dalam setiap pengaturan sepihak terkait Selat Hormuz.
Seperti dikutip reuters, memasuki dua bulan konflik, jalur laut strategis tersebut masih sebagian besar tertutup akibat blokade Iran, sementara Angkatan Laut Amerika Serikat membatasi ekspor minyak mentah Iran. Kondisi ini mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, mendorong kenaikan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April. Namun, laporan mengenai rencana pengarahan kepada Presiden Donald Trump terkait opsi serangan militer baru mendorong lonjakan harga minyak global hingga sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun.
Iran dilaporkan telah mengaktifkan sistem pertahanan udara dan menyiapkan respons luas jika terjadi serangan. Dua sumber senior Iran menyebutkan bahwa Teheran memperkirakan kemungkinan serangan singkat namun intens dari Amerika Serikat, yang berpotensi diikuti aksi militer Israel.
Hingga kini, Washington belum mengumumkan langkah lanjutan. Trump sebelumnya menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal terbaru Iran, sementara mediator Pakistan belum menetapkan jadwal baru untuk perundingan damai.
Konflik meningkat setelah serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari, yang dibalas Iran dengan serangan ke pangkalan dan infrastruktur terkait AS di kawasan Teluk. Kelompok Hizbullah di Lebanon juga meluncurkan rudal ke Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan ke wilayah Lebanon.
Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, menegaskan bahwa jaminan utama kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus didasarkan pada hukum internasional dan konsensus global.
"Dan, tentu saja, tidak ada pengaturan sepihak Iran yang dapat dipercaya atau diandalkan setelah agresi pengkhianatannya terhadap semua negara tetangganya," tulis Gargash.
Trump juga menghadapi tenggat hukum domestik untuk mengakhiri konflik atau meminta persetujuan Kongres guna memperpanjangnya sesuai War Powers Resolution 1973. Namun, pejabat pemerintah menyatakan bahwa secara teknis permusuhan telah berakhir sejak gencatan senjata April.
Pasar energi dan keuangan tetap bergejolak seiring ketidakpastian negosiasi dan potensi penutupan berkepanjangan Selat Hormuz. Harga minyak Brent kembali menguat di atas US$111 per barel pada Jumat dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 5,7%, setelah sempat menyentuh US$126 per barel, level tertinggi sejak Maret 2022.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengingatkan agar tidak mengharapkan hasil cepat dari perundingan. Sementara itu, pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa setiap serangan baru AS, meski terbatas, akan dibalas dengan serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi AS di kawasan.
"Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda." Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dan menyebut harga bahan bakar akan turun signifikan setelah konflik berakhir. Iran menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.
Meski tekanan ekonomi meningkat akibat konflik dan blokade AS, analis menilai Iran masih mampu bertahan dalam kebuntuan di kawasan Teluk untuk saat ini. Di sisi lain, AS mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Washington juga tengah menggagas pembentukan koalisi baru bernama Maritime Freedom Construct guna menjamin kebebasan navigasi.(DH)