Proposal baru Iran tekan harga minyak, pasar tunggu respon AS
Sabtu, 02 Mei 2026

JAKARTA - Harga minyak dunia berbalik melemah pada Jumat setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengajukan proposal perdamaian baru kepada mediator Pakistan. Langkah ini memicu harapan deeskalasi di tengah kebuntuan konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Seperti dikutip Investing, pada pukul 15.50 ET, kontrak Brent untuk Juli turun 1,8% ke US$108,39 per barel, setelah kontrak Juni berakhir sehari sebelumnya dengan sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di atas US$126 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni melemah 2,8% ke US$102,14 per barel.
"Iran menyerahkan teks tersebut kepada Pakistan, mediator dalam negosiasi dengan Amerika Serikat pada Kamis malam," demikian laporan kantor berita resmi Iran.
Penurunan harga terjadi setelah muncul sinyal baru dari jalur diplomasi. Namun, optimisme pasar tertahan oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut proposal tersebut belum memenuhi harapan Washington.
"Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu, jadi kita lihat saja apa yang terjadi.'" "Saat ini kami melakukan semuanya, dalam hal negosiasi, melalui telepon. Mereka telah membuat kemajuan, tetapi saya tidak yakin apakah mereka akan sampai ke sana."
"Kami baru saja berbicara dengan Iran. Mari kita lihat apa yang terjadi, tetapi saya akan mengatakan bahwa saya tidak senang ... Mereka harus menghasilkan kesepakatan yang tepat. Saat ini, saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan."
Laporan menyebutkan proposal terbaru Iran tidak lagi mensyaratkan penghentian langsung blokade laut oleh AS sebagai prasyarat awal. Meski demikian, belum ada rincian resmi terkait isi lengkap dokumen tersebut.
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam ke level tertinggi sejak krisis Rusia-Ukraina 2022 setelah muncul laporan bahwa AS mempertimbangkan opsi militer tambahan terhadap Iran. Opsi tersebut mencakup pembukaan paksa Selat Hormuz, serangan lanjutan, hingga operasi khusus untuk menyita uranium yang telah diperkaya.
Di sisi lain, Iran menegaskan akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz serta melindungi kepentingan nuklir dan militernya. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa ketegangan masih tinggi meski gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu.
Analis menilai pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan, terutama jika penutupan Selat Hormuz berlanjut dan mengganggu produksi minyak negara-negara Teluk.
"Selisih antara pasar kertas dan pasar fisik semakin menyempit seiring dengan mulai terwujudnya kelangkaan untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai." "Pasar khawatir bahwa penutupan Selat Hormuz yang sedang berlangsung akan memperpanjang penghentian produksi di produsen Teluk Persia."(DH)