UBS: Minat klien tajir ke private credit mulai mendingin

Sabtu, 02 Mei 2026

image

JAKARTA - UBS Group AG melihat minat nasabah kaya terhadap private credit mulai melemah di tengah ketidakpastian global, menambah tekanan pada industri yang selama ini tumbuh agresif.

Chief Financial Officer Todd Tuckner mengatakan antusiasme klien terhadap instrumen tersebut kini tidak lagi setinggi sebelumnya.

“Minat terhadap kredit swasta di kalangan klien kaya kami lebih terkendali dalam lingkungan saat ini,” kata Tuckner, seperti dikutip Bloomberg.

Ia menambahkan kondisi ini “jelas mencerminkan ketidakpastian makro dan preferensi akan likuiditas dan pelestarian modal.”

Pernyataan itu menegaskan fase penyesuaian dalam industri private credit bernilai sekitar US$1,8 triliun, setelah bertahun-tahun mencatat ekspansi pesat. Dalam beberapa bulan terakhir, kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan pada bisnis perangkat lunak berbasis private equity yang menjadi debitur utama memicu peningkatan permintaan penarikan dana di sejumlah kendaraan investasi private credit non-terbuka.

Di internal bank, eksposur terhadap private credit masih terbatas. UBS menyebut porsi aset tersebut hanya sekitar 50–60 basis poin dari total leverage.

Kekhawatiran serupa juga muncul di bank lain. Deutsche Bank AG sebelumnya mengungkap eksposur sebesar €26 miliar terhadap private credit.

CFO Raja Akram menyebut eksposur tersebut tetap terkendali. “untuk memperketat standar pemberian pinjaman kami dalam lingkungan saat ini, dengan menjadi sangat selektif tentang kepada siapa kami memberikan pinjaman," ujarnya. Ia menambahkan total eksposur bank ke business development companies (BDC) mencapai €2,5 miliar, sebagian besar dalam bentuk kredit senior.

Sementara itu, Banco Santander SA juga mengambil langkah serupa. Chief Executive Officer Hector Grisi mengatakan private credit menyumbang kurang dari 1% dari total portofolio kredit, dengan penguatan kontrol risiko di tengah dinamika pasar.(DH)