Hidupkan ARRW, Amerika pamerkan B-1B bawa rudal hipersonik
Sabtu, 02 Mei 2026

JAKARTA - United States Air Force untuk pertama kalinya merilis citra publik pembom B-1B Lancer yang membawa rudal hipersonik AGM-183 ARRW. Langkah ini menegaskan kebangkitan program senjata yang sebelumnya sempat diragukan masa depannya.
Rekaman singkat yang diunggah oleh Edwards Air Force Base memperlihatkan B-1B membawa ARRW di hardpoint eksternal. Waktu pengambilan gambar tidak diungkap, namun kemunculannya menandai kemajuan penting dalam integrasi senjata hipersonik pada platform pembom.
ARRW sempat diproyeksikan sebagai senjata hipersonik operasional pertama militer AS sebelum programnya dipangkas pada 2023. Kini, Angkatan Udara kembali menghidupkan proyek tersebut dengan rencana pengembangan versi lanjutan serta program baru rudal balistik luncur udara (air-launched ballistic missile/ALBM).
“Tujuan saya adalah untuk mendatangkan setidaknya satu skuadron pesawat yang dimodifikasi dengan pylon eksternal pada B-1, untuk membawa ARRW (Air-launched Rapid Response Weapon),” ujar Timothy Ray, mantan kepala Air Force Global Strike Command, seperti dikutip Twz.
Dalam dokumen anggaran fiskal 2026, B-1B ditetapkan sebagai platform uji coba untuk pylon modular LAM (Load Adaptable Modular) yang dirancang membawa senjata hipersonik dan muatan berat lainnya. Pesawat ini mampu membawa hingga enam pylon, masing-masing menampung senjata kelas 5.000 pon seperti ARRW.
Angkatan Udara menyatakan, “Program Integrasi Hipersonik berhasil mendemonstrasikan kemampuan B-1 untuk melakukan pengangkutan muatan kelas 5.000 pon dan pelepasan bentuk senjata yang telah teruji dari pylon Load Adaptable Modular (LAM).”
Secara teknis, ARRW menggunakan kendaraan luncur hipersonik (boost-glide) yang dipercepat roket sebelum meluncur menuju target dengan kecepatan tinggi dan lintasan sulit diprediksi, membuatnya sulit dicegat.
Dalam proposal anggaran 2027, Angkatan Udara mengajukan hampir US$350 juta untuk pengembangan ARRW Increment 2 dan peluncuran program ALBM. Selain itu, investasi US$1,8 miliar disiapkan untuk mempercepat produksi ARRW dan rudal hipersonik lain, HACM.
“Kami menggandakan tingkat produksi untuk dua senjata hipersonik yang sedang kami kembangkan, yaitu Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) dan Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM), dengan investasi yang direncanakan sebesar 1,8 miliar dolar AS...”
Di tengah persaingan dengan China dalam pengembangan senjata hipersonik, AS juga memperpanjang usia operasional B-1B hingga setidaknya 2037. Sekitar US$342 juta dialokasikan untuk modernisasi 44 unit pembom tersebut hingga 2031.
Dengan kapasitas angkut terbesar di armada pembom AS, B-1B kini kembali menjadi tulang punggung dalam pengembangan dan pengujian senjata generasi baru, sekaligus memperkuat daya gentar Washington di tengah meningkatnya tensi global.(DH)