Perang Iran picu lonjakan gas global, AS justru kebanjiran pasokan

Sabtu, 02 Mei 2026

image

JAKARTA - Perang dengan Iran mendorong lonjakan harga gas alam global setelah gangguan ekspor dari kawasan Teluk memangkas sekitar 20% pasokan LNG dunia. Serangan terhadap fasilitas energi Qatar dan ancaman penutupan Selat Hormuz membuat pengiriman terganggu di jalur vital perdagangan energi.

Krisis ini memperlihatkan perpecahan tajam pasar gas global. Negara-negara di Eropa dan Asia yang bergantung pada impor berebut pasokan yang semakin langka, sementara Amerika Serikat justru dibanjiri gas berlimpah dengan harga domestik mendekati level terendah 17 bulan.

Seperti dikutip Reuters, harga gas di Henry Hub turun hingga 12% sejak perang dimulai, menyentuh US$2,52 per mmBtu. Sebaliknya, harga di Eropa melonjak 84% dan di Asia 108% ke kisaran US$21-22 per mmBtu. Kondisi ini berbanding terbalik dengan minyak mentah yang sama-sama naik lebih dari 50% akibat konflik.

Di AS, keterbatasan infrastruktur membuat gas tidak dapat disalurkan ke pasar ekspor meski produksi mencapai rekor 107,7 miliar kaki kubik per hari pada 2025. Bahkan di Permian Basin, harga spot sempat jatuh di bawah nol karena pipa penuh dan produsen harus membayar agar gasnya diangkut.

“Bantuan signifikan bagi transportasi baru akan terlihat pada akhir tahun ini atau awal tahun 2027, ketika proyek-proyek pipa yang lebih besar diperkirakan akan dimulai,” kata analis Bank of America.

Sementara itu, perusahaan LNG AS seperti Venture Global dan Cheniere Energy menjadi pihak yang diuntungkan karena permintaan global melonjak setelah gangguan pasokan Qatar.

Namun di sisi hulu, produsen gas justru tertekan harga domestik yang lemah. EQT bahkan memangkas produksi sambil menunggu pemulihan permintaan.

“Pembatasan produksi strategis kami bertindak sebagai bentuk penyimpanan, menjaga gas tetap berada di dalam tanah (selama) periode permintaan musiman yang rendah,” kata CFO EQT, Jeremy Knop.(DH)