Reli bitcoin ditopang leverage, permintaan riil masih seret
Sabtu, 02 Mei 2026

JAKARTA - Bitcoin mencatat reli kuat sepanjang April, namun fondasi kenaikan dinilai rapuh karena lemahnya permintaan riil di pasar spot.
Seperti dikutip Cnbc, data dari CryptoQuant menunjukkan harga bitcoin melonjak 12,7% selama April, menjadi kinerja bulanan terbaik sejak April 2025 dan mencatat dua bulan kenaikan beruntun. Kenaikan ini melanjutkan penguatan tipis hampir 2% pada Maret setelah lima bulan berturut-turut tertekan. Sementara itu, ether ikut naik 8% dan membukukan performa terbaik sejak Agustus.
Namun, reli tersebut tidak ditopang oleh akumulasi aset secara langsung. CryptoQuant menilai lonjakan harga justru didorong hampir sepenuhnya oleh aktivitas leveraged trading di pasar derivatif, khususnya perpetual futures. Indikator “permintaan yang jelas” yang mengukur perubahan pembelian bitcoin selama 30 hari tetap berada di zona negatif sepanjang April, berbanding terbalik dengan lonjakan permintaan di pasar futures.
Head of Research CryptoQuant, Julio Moreno, menegaskan kombinasi ini kerap menjadi sinyal peringatan. “Perbedaan ini meningkatnya permintaan berjangka bersamaan dengan menyusutnya permintaan spot menunjukkan bahwa apresiasi harga didorong oleh leverage daripada akumulasi koin baru,” “Secara historis, konfigurasi seperti itu tidak memiliki fondasi struktural yang diperlukan untuk mempertahankan kenaikan harga dan biasanya berakhir melalui koreksi setelah posisi berjangka dilepas.”
Dominasi perpetual futures menegaskan pergeseran struktur pasar kripto. Instrumen ini kini menjadi pusat likuiditas, aktivitas perdagangan, sekaligus penentu harga. Sebaliknya, perdagangan spot yang sebelumnya menjadi tulang punggung bursa kripto mulai kehilangan peran sebagai penggerak pendapatan yang stabil, karena sangat bergantung pada siklus akumulasi yang tidak selalu terjadi.
Sepanjang 2026, permintaan kripto tercatat tidak merata dan cenderung reaktif terhadap faktor eksternal. Pergerakan harga lebih banyak dipengaruhi ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dan gejolak geopolitik, termasuk konflik Iran, dibandingkan pertumbuhan permintaan organik. Di sisi lain, minimnya katalis baru terutama mandeknya pembahasan regulasi seperti RUU struktur pasar CLARITY Act, turut menahan penguatan yang lebih solid.
Moreno juga mengingatkan pola serupa pernah muncul pada awal pasar bearish 2022, yang kemudian diikuti penurunan harga berkepanjangan. “Ini bukan kasus tertinggalnya permintaan spot yang mengejar permintaan berjangka,” katanya. “Reli yang dibangun di atas struktur ini cenderung membatasi diri. Tanpa pertumbuhan permintaan spot untuk mempertahankan harga yang tinggi, pelepasan posisi berjangka biasanya menjadi pendorong koreksi berikutnya.”
Meski demikian, aliran dana institusional masih menunjukkan sinyal positif. Arus masuk bersih ke ETF bitcoin mencapai US$1,9 miliar sepanjang April, dengan total aset kelolaan menyentuh US$100,53 miliar. Perusahaan treasury berbasis bitcoin juga menambah kepemilikan sekitar 58.000 koin senilai US$4,4 miliar pada akhir bulan.
Setelah menyentuh puncak sekitar US$79.500 di April, bitcoin mulai bergerak melemah dengan pola lower lows hingga akhir bulan. Memasuki perdagangan awal Mei, harga kembali menguat lebih dari 2% dan berada sedikit di atas 1% dari level tertinggi April, namun risiko koreksi tetap membayangi selama permintaan spot belum pulih.(DH)