Produsen EV China ganti perang harga jadi duel teknologi AI
Sabtu, 02 Mei 2026

JAKARTA - Perang harga kendaraan listrik di China kini bergeser menjadi pertarungan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), seiring produsen otomotif berlomba menambah fitur pintar untuk mempertahankan daya saing di pasar terbesar dunia.
Seperti dikutip Cnbc, lebih dari 50 merek mobil telah mengadopsi model AI Doubao milik ByteDance melalui platform cloud Volcano Engine. Teknologi ini kini tertanam di 145 model kendaraan dan digunakan oleh lebih dari 7 juta unit mobil, termasuk pada model baru dari merek global seperti Mercedes-Benz, Audi, dan Volkswagen melalui kolaborasi dengan produsen lokal.
CEO proyek kerja sama Audi-SAIC, Fermín Soneira, menegaskan percepatan inovasi menjadi kunci di tengah persaingan. “Kami akan terus mengintegrasikan fitur-fitur baru dengan lebih cepat,” ujarnya. Ia juga menyoroti kemampuan pembaruan perangkat lunak jarak jauh (over-the-air) yang memungkinkan produsen meluncurkan fitur baru secara cepat.
Namun, tekanan pasar belum mereda. “Situasinya akan tetap sulit, karena kapasitasnya ada,” kata Soneira. “Perang harga ini tidak akan benar-benar berhenti dalam sebulan ke depan.”
Perubahan fokus industri mencerminkan pergeseran preferensi konsumen yang kini menuntut fitur konektivitas tinggi, mulai dari integrasi smartphone hingga asisten suara berbasis AI. Doubao sendiri menjadi chatbot paling populer di China dengan lebih dari 155 juta pengguna aktif mingguan.
Menurut Stephen Dyer dari AlixPartners, kompetisi kini berubah menjadi “perang fitur” pada teknologi kabin. Namun, keseragaman teknologi menjadi tantangan baru karena fitur-fitur tersebut cepat menyebar di pasar, sehingga sulit menciptakan diferensiasi jangka panjang. “Dengan teknologi, mereka harus berlomba dan terus berlomba, karena teknologi menyebar begitu cepat sehingga Anda tidak akan pernah bisa mempertahankan teknologi yang berbeda untuk waktu yang lama,” ujarnya.
Sebagai respons, produsen mulai mengembangkan strategi di luar kendaraan. Nio, misalnya, menawarkan pengalaman eksklusif seperti akses ke clubhouse dan layanan premium bagi pelanggannya. Meski demikian, strategi ini menambah tekanan biaya di tengah pertumbuhan pasar yang melambat.
Di sisi lain, Alibaba turut memperkuat persaingan dengan menghadirkan model AI Qwen ke dalam kendaraan produsen seperti BYD dan joint venture Volkswagen. Sistem ini memungkinkan pengguna memesan makanan, memesan hotel, hingga membeli tiket hanya melalui perintah suara, bahkan dengan koneksi terbatas berkat dukungan chip otomotif Nvidia.
Pendiri Sino Auto Insights, Tu Le, menilai AI seharusnya menjadi elemen pendukung, bukan fitur utama. “Apa yang kita anggap sebagai fitur sederhana dan standar pada kendaraan pasar massal di pasar Tiongkok, akan segera menjadi fitur yang diharapkan di pasar Barat juga,” katanya.
Perkembangan ini menegaskan bahwa industri kendaraan listrik China tidak lagi hanya bersaing pada harga atau jarak tempuh, melainkan pada kecepatan inovasi teknologi meski keunggulan tersebut semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.(DH)