Trump: Kami seperti bajak laut. Ini bisnis yang sangat menguntungkan

Sabtu, 02 Mei 2026

image

WASHINGTON – Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS bertindak “seperti bajak laut” dalam menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di tengah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat menggambarkan penyitaan sebuah kapal oleh pasukan AS beberapa hari sebelumnya.

“Kami mengambil alih kapal itu, kami mengambil alih muatannya, kami mengambil alih minyaknya. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” kata Trump pada Jumat malam, seperti dikutip Reuters, Sabtu (2/5).

“Kami seperti bajak laut. Kami agak seperti bajak laut, tapi kami tidak sedang bermain-main.”

Sejumlah kapal Iran disita oleh AS setelah meninggalkan pelabuhan, termasuk kapal kontainer yang dikenai sanksi serta tanker di perairan Asia.

Di sisi lain, Iran memblokir hampir seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz, kecuali kapal miliknya sendiri, sejak awal perang. Washington juga memberlakukan blokade terpisah terhadap pelabuhan Iran.

Konflik dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Rangkaian serangan tersebut telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi.

Perang ini juga memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu distribusi energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pengiriman minyak dan gas alam cair global.

Risiko Kebuntuan

Memasuki lebih dari dua bulan, konflik ini belum menghasilkan kemenangan militer maupun diplomatik yang menentukan. Situasi ini memunculkan risiko kebuntuan berkepanjangan yang justru dapat meninggalkan masalah lebih besar bagi AS dan dunia dibanding sebelum perang dimulai.

Bagi Trump dan Partai Republik, implikasinya cukup serius. Konflik yang berlarut-larut berpotensi memperpanjang dampak ekonomi global, termasuk tingginya harga bensin di AS, yang pada gilirannya menekan popularitas Trump.

Kondisi ini juga dapat memperburuk peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.

Lebih jauh, perang ini dinilai belum mencapai banyak tujuan yang sebelumnya dinyatakan Trump. Target yang berubah-ubah, mulai dari pergantian rezim hingga menghentikan program nuklir Iran, masih belum terpenuhi.

Kekhawatiran akan kebuntuan semakin menguat setelah Trump membatalkan pengiriman tim negosiator ke Islamabad dan menolak tawaran Iran untuk menghentikan perang di bawah kerangka gencatan senjata.

Iran mengusulkan agar pembahasan program nuklir ditunda hingga konflik berakhir dan kesepakatan tercapai untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Trump menolak pendekatan tersebut dan menuntut isu nuklir diselesaikan sejak awal.

Kegagalan mengembalikan kendali atas Selat Hormuz akan menjadi pukulan besar bagi warisan politik Trump.

“Ia akan dikenang sebagai presiden AS yang membuat dunia menjadi kurang aman,” kata Laura Blumenfeld, pakar Timur Tengah di Universitas Johns Hopkins di Washington.

Namun, Gedung Putih membantah penilaian tersebut. Juru bicara Olivia Wales menyebut tekanan militer dan ekonomi telah membuat Iran semakin terdesak, dan Trump “memegang semua kartu” untuk mencapai kesepakatan terbaik.

Opsi Militer dan Tekanan Berlanjut

Di tengah ketidakpastian arah kebijakan, Trump disebut mempertimbangkan blokade laut jangka panjang terhadap Iran guna menekan ekspor minyaknya dan memaksa kesepakatan denuklirisasi.

Pada saat yang sama, opsi militer tetap terbuka. Komando Pusat AS dilaporkan telah menyiapkan skenario serangan “singkat namun kuat”, termasuk kemungkinan menguasai sebagian Selat Hormuz untuk membuka kembali jalur pelayaran.

Sejumlah diplomat Eropa memperkirakan konflik ini tidak akan segera berakhir.

“Sulit melihat ini akan selesai dalam waktu dekat,” kata seorang diplomat.

Para analis menilai Iran justru memperoleh leverage strategis baru. Dengan kemampuannya mengganggu Selat Hormuz, Iran dinilai akan tetap memiliki pengaruh besar bahkan setelah perang.

“Iran menyadari bahwa, bahkan dalam kondisi melemah, mereka bisa menutup selat kapan saja,” kata Jon Alterman, dari Center for Strategic and International Studies di Washington.

“Kesadaran itu membuat Iran lebih kuat dibanding sebelum perang.”

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah bahwa konflik ini telah berubah menjadi “quagmire” atau perang yang buntu, meskipun sebelumnya Trump memperkirakan perang akan selesai dalam empat hingga enam minggu.

Risiko Konflik Beku

Dengan negosiasi yang masih menemui jalan buntu, sejumlah analis memperingatkan konflik ini bisa berubah menjadi “konflik beku” yang sulit diselesaikan secara permanen.

Situasi tersebut berpotensi menghambat upaya AS untuk mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah, sekaligus menambah biaya strategis baru, termasuk memburuknya hubungan dengan sekutu Eropa.

Trump juga mengkritik negara-negara NATO yang tidak ikut membantu membuka jalur pelayaran, bahkan mempertimbangkan pengurangan pasukan AS di Jerman, Spanyol, dan Italia.

Di sisi lain, Iran kini dipimpin oleh kelompok yang lebih garis keras setelah serangan AS-Israel menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Seruan Trump agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahnya pun tidak membuahkan hasil.

Di dalam negeri, tekanan terhadap Trump semakin meningkat. Tingkat persetujuannya turun ke 34% menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, sementara harga bensin melonjak di atas 4 dolar per galon menjelang pemilu.

Gedung Putih menyatakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Namun, Iran diyakini akan memanfaatkan tekanan domestik Trump dengan strategi menunggu.

“Iran tidak terpecah atau runtuh, mereka sedang bermain waktu,” kata Sina Toossi dari Center for International Policy. (YS/MT)