Amanakan jalur Hormuz, AS kerahkan AI deteksi ranjau Iran

Sabtu, 02 Mei 2026

image

JAKARTA - Angkatan Laut Amerika Serikat mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi ranjau laut Iran di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global yang kini berada dalam tekanan konflik.

Seperti dikutip Reuters, langkah ini diperkuat kontrak hingga US$99,7 juta kepada Domino Data Lab guna memperluas peran teknologi AI dalam proyek Project AMMO (Accelerated Machine Learning for Maritime Operations). Program ini dirancang untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi deteksi ranjau bawah laut, sekaligus mengurangi ketergantungan pada personel manusia.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan Angkatan Laut AS tengah membersihkan ranjau Iran dari kawasan tersebut. Namun, proses penyisiran diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan meski terdapat gencatan senjata rapuh antara kedua negara.

Teknologi Domino memungkinkan drone bawah laut belajar mengenali jenis ranjau baru hanya dalam hitungan hari, jauh lebih cepat dibandingkan metode sebelumnya yang membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk memperbarui model AI.

“Dahulu, pencarian ranjau adalah tugas kapal,” ujar COO Domino, Thomas Robinson. “Sekarang, tugas itu beralih ke AI. Angkatan Laut membayar platform yang memungkinkan mereka melatih, mengatur, dan mengerahkan AI tersebut dengan kecepatan yang dibutuhkan di perairan yang diperebutkan, yang menghambat perdagangan global dan membahayakan para pelaut.”

Sistem ini mengintegrasikan berbagai data sensor, termasuk sonar dan citra visual, untuk memantau kinerja model AI secara real time, mengidentifikasi kegagalan, serta memperbarui algoritma secara cepat di lapangan.

Keunggulan utama yang diincar adalah kecepatan adaptasi. “Jika ada UUV (kendaraan bawah air tanpa awak) di Laut Baltik yang diarahkan ke ranjau Rusia, dan kemudian perlu dikerahkan ke Selat Hormuz untuk mendeteksi ranjau Iran, dengan teknologi Domino, Angkatan Laut dapat siap dalam waktu seminggu, bukan setahun,” kata Robinson.

Penguatan kapabilitas ini mencerminkan perubahan strategi militer AS, yang semakin mengandalkan AI dalam operasi maritim di kawasan berisiko tinggi, terutama di jalur perdagangan global yang krusial.(DH)