Bos Exxon prediksi harga minyak naik, dampak perang belum terasa

Sabtu, 02 Mei 2026

image

JAKARTA - CEO Exxon Mobil, Darren Woods, memperingatkan pasar belum sepenuhnya mencerminkan dampak gangguan pasokan energi akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak global.

Seperti dikutip Cnbc, dalam paparan kinerja kuartal I, Woods menilai lonjakan harga minyak saat ini belum mencerminkan skala disrupsi yang terjadi. Selama bulan pertama konflik, pasokan masih tertopang oleh kapal tanker yang sudah berlayar, pelepasan cadangan strategis, serta penarikan stok komersial.

Namun, penopang tersebut bersifat sementara. “Bagi kebanyakan orang, jelas bahwa jika Anda melihat gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pasokan minyak dan gas alam dunia, pasar belum merasakan dampak penuhnya,” ujar Woods. “Akan ada dampak lebih lanjut jika selat tersebut tetap tertutup.”

Ia menegaskan harga minyak berpotensi naik lebih tinggi jika penutupan jalur tersebut berlanjut, terutama ketika cadangan mulai menipis. Pergerakan harga sejauh ini juga masih fluktuatif naik saat risiko eskalasi meningkat dan turun ketika harapan perdamaian muncul dengan level saat ini dinilai belum mencerminkan tekanan pasokan yang sebenarnya.

Woods memperkirakan aliran minyak dari Teluk Persia baru akan kembali normal satu hingga dua bulan setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Proses reposisi tanker, distribusi backlog pasokan, hingga pengiriman ke tujuan akhir membutuhkan waktu tambahan.

Selain itu, pemerintah dan pelaku industri diperkirakan akan kembali mengisi cadangan strategis dan stok komersial setelah konflik mereda. Lonjakan permintaan ini berpotensi menambah tekanan kenaikan harga.

Di sisi operasional, Exxon memproyeksikan produksi di Timur Tengah turun hingga 750.000 barel per hari dibandingkan 2025 jika penutupan selat berlanjut hingga kuartal II. Sekitar 15% total produksi perusahaan telah terdampak, sementara distribusi ke kilang global diperkirakan turun 3%.

Gangguan juga terjadi pada fasilitas gas alam cair di Qatar yang sebagian dimiliki Exxon, setelah serangan Iran merusak dua lini produksi. Fasilitas tersebut sebelumnya menyumbang sekitar 3% produksi hulu perusahaan.

Meski harga minyak melonjak sekitar 57% sejak konflik dimulai, kinerja saham Exxon relatif stagnan menunjukkan pasar masih menunggu kepastian arah krisis sebelum merefleksikan dampak penuh terhadap sektor energi global.(DH)