Iran sebut perang AS bisa terjadi lagi, Trump kritik proposal Iran

Minggu, 03 Mei 2026

image

JAKARTA — Konflik Iran-AS kembali memanas setelah pejabat militer Iran menyebut perang dengan Amerika Serikat berpotensi terjadi lagi di tengah mandeknya negosiasi kedua negara.Menurut laporan Channel News Asia (3/5), seorang perwira militer senior Iran menyatakan bahwa pertempuran ulang dengan Amerika Serikat “kemungkinan besar” terjadi, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengaku tidak puas dengan proposal negosiasi terbaru dari Teheran.Perang Iran-AS yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari diketahui telah memasuki masa jeda sejak 8 April 2026. Iran sebelumnya menyerahkan draf proposal kepada Pakistan sebagai mediator pada Kamis malam, namun tanpa rincian isi, sementara satu putaran perundingan damai di Pakistan dilaporkan gagal mencapai kesepakatan, dikutip dari CNA (3/5).Trump menilai proposal Iran belum memadai dan menyebut kebuntuan negosiasi dipicu oleh “ketidakharmonisan besar” di dalam kepemimpinan Iran. Ia menyatakan pilihannya berada di antara melakukan serangan besar atau melanjutkan diplomasi, namun mengindikasikan lebih memilih upaya kesepakatan.Dari pihak Iran, Mohammad Jafar Asadi menegaskan konflik Iran-AS berpotensi kembali terjadi dan menuding Amerika Serikat tidak berkomitmen terhadap janji maupun kesepakatan yang telah dibuat, dikutip dari CNA (3/5).Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa keputusan kini berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif. Ia menegaskan Iran siap menghadapi kedua opsi tersebut.Ketegangan konflik Iran-AS juga terlihat dari sikap internal Iran. Kepala lembaga peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyatakan bahwa negaranya tidak pernah menghindari negosiasi, namun tidak akan menerima syarat perdamaian yang dipaksakan.Sementara itu, Gedung Putih belum mengungkap detail proposal Iran. Laporan media menyebut utusan AS Steve Witkoff mengajukan perubahan yang kembali memasukkan program nuklir Iran ke dalam agenda perundingan.Iran menilai sikap Amerika Serikat terhadap program nuklirnya sebagai bentuk kemunafikan, dengan menyoroti besarnya arsenal nuklir Washington. Teheran juga menegaskan bahwa tidak ada pembatasan hukum atas tingkat pengayaan uranium selama berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dikutip dari CNA (3/5).Di sektor energi, ketegangan konflik Iran-AS berdampak pada harga minyak global yang sempat turun hampir 5 persen setelah munculnya proposal Iran, namun masih berada sekitar 50 persen di atas level sebelum perang. Kondisi ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia.Iran mempertahankan kontrol ketat atas Selat Hormuz sejak perang dimulai, sehingga menghambat aliran energi global, sementara Amerika Serikat merespons dengan blokade terhadap pelabuhan Iran.Dalam sebuah rapat umum, Trump bahkan menggambarkan operasi militer AS terhadap kapal tanker minyak sebagai tindakan “seperti bajak laut”, merujuk pada serangan helikopter di tengah blokade.Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan haknya atas Selat Hormuz dan menyebut pergerakan kapal tidak akan kembali seperti sebelumnya. Ia juga mengungkapkan bahwa 30 persen pendapatan dari pengelolaan Selat Hormuz akan dialokasikan untuk infrastruktur militer, sementara sisanya untuk pembangunan ekonomi.Meski terdapat gencatan senjata di kawasan Teluk, konflik masih berlanjut di Lebanon. Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan di wilayah selatan meski ada gencatan senjata terpisah dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, sementara Hizbullah juga mengklaim melakukan serangan terhadap pasukan Israel, dikutip dari CNA (3/5).Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan bahwa gencatan senjata menghentikan sementara batas waktu 60 hari yang mengharuskan persetujuan Kongres, meskipun klaim tersebut diperdebatkan oleh oposisi Demokrat.Trump dalam surat kepada pemimpin Kongres menyebut tidak ada baku tembak antara pasukan AS dan Iran sejak 7 April 2026 serta menegaskan bahwa permusuhan telah dihentikan.Namun demikian, dampak ekonomi konflik Iran-AS semakin terasa di Iran. Ekspor minyak terhambat dan inflasi melonjak melampaui 50 persen, sementara masyarakat mulai mengandalkan tabungan untuk bertahan hidup. Di Washington, para legislator masih memperdebatkan aspek hukum terkait apakah presiden telah melanggar tenggat waktu dalam meminta persetujuan Kongres atas perang tersebut. (SA)