Spirit Airlines tutup, harga BBM jet naik 2 kali picu krisis

Minggu, 03 Mei 2026

image

JAKARTA - Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines resmi menghentikan operasinya pada Sabtu di tengah lonjakan harga bahan bakar jet akibat perang Iran, menjadikannya korban pertama krisis baru industri penerbangan global di tengah lonjakan harga energi.

Menurut laporan Reuters (3/5), kenaikan harga bahan bakar jet yang melonjak hingga dua kali lipat dalam dua bulan terakhir menjadi pemicu utama runtuhnya maskapai berbiaya rendah tersebut. Dampak dari penutupan ini diperkirakan akan menghilangkan ribuan lapangan kerja dan menjadi pukulan bagi Donald Trump, yang sebelumnya mengusulkan paket bailout senilai 500 juta dolar AS.

Spirit Airlines sempat menjadi pemain penting di industri penerbangan AS dengan kontribusi hingga 5% dari total penerbangan domestik. Maskapai ini dikenal menjaga tarif tetap rendah di berbagai rute, sehingga menjadi alternatif bagi penumpang yang mencari harga tiket murah.

Kegagalan penyelamatan terjadi setelah rapat dewan Spirit Airlines berakhir tanpa kesepakatan dengan para kreditur. Spirit Airlines menyatakan bahwa lonjakan harga minyak dan tekanan bisnis lainnya telah memperburuk kondisi keuangan secara signifikan, dikutip dari Reuters (3/5).

Seluruh penerbangan maskapai tersebut dibatalkan dan penumpang diminta untuk tidak datang ke bandara. Data Cirium menunjukkan maskapai ini memiliki 4.119 penerbangan domestik terjadwal pada periode 1–15 Mei dengan total 809.638 kursi, mencerminkan skala operasional yang terdampak langsung.

Krisis ini dipicu oleh gangguan pasokan energi global setelah serangan AS-Israel ke Iran yang mengganggu jalur strategis Selat Hormuz. Lonjakan harga bahan bakar jet pun menjadi tekanan besar bagi industri penerbangan dan disebut sebagai krisis terburuk sejak pandemi COVID-19.

Model bisnis Spirit Airlines sebagai maskapai berbiaya rendah dengan layanan tambahan terbatas kini semakin tertekan. Setelah pandemi, tren penumpang bergeser ke kenyamanan dan pengalaman perjalanan, membuat maskapai ultra-low-cost kesulitan mempertahankan daya saing.

Penutupan Spirit Airlines diperkirakan akan menguntungkan pesaing seperti JetBlue Airways dan Frontier Airlines. Saham Spirit dilaporkan anjlok sekitar 25%, sementara Frontier naik 10% dan JetBlue menguat 4% seiring ekspektasi pasar terhadap pergeseran pangsa industri, dikutip dari Reuters (3/5).

Sebagai langkah cepat, JetBlue Airways mengumumkan ekspansi layanan dari Fort Lauderdale dengan penambahan rute ke 11 kota baru serta peningkatan frekuensi penerbangan pada rute yang sudah ada untuk mengisi kekosongan pasar.

Pemerintah AS sebelumnya telah mengajukan proposal penyelamatan terakhir kepada Spirit Airlines dan para krediturnya. Namun, negosiasi pembiayaan 500 juta dolar AS untuk maskapai tersebut menemui jalan buntu, dengan pemerintah menegaskan bahwa bantuan hanya akan diberikan jika menguntungkan.

Dampak perang Iran terhadap ekonomi global semakin terlihat dari kejatuhan Spirit Airlines. Ekonom Mohamed El-Erian menilai efek rambatan konflik berisiko mendorong lebih banyak bisnis rapuh menuju kebangkrutan serta membebani rumah tangga dan ekonomi yang rentan.

Lonjakan harga bahan bakar jet menjadi faktor krusial dalam kegagalan restrukturisasi perusahaan. Spirit Airlines sebelumnya memproyeksikan harga bahan bakar sekitar 2,24 dolar AS per galon pada 2026 dan 2,14 dolar AS pada 2027. Namun, harga melonjak hingga sekitar 4,51 dolar AS per galon pada akhir April, membuat perusahaan tidak mampu bertahan tanpa tambahan pendanaan, dikutip dari Reuters (3/5).

Upaya pemerintah untuk mencari pembeli bagi Spirit Airlines juga tidak membuahkan hasil. Menteri Transportasi AS Sean Duffy mempertanyakan nilai akuisisi maskapai tersebut karena tidak ada pihak yang berminat di tengah kondisi keuangan yang memburuk.

Seorang kreditur yang terlibat dalam pembahasan bahkan menyebut bahwa upaya penyelamatan tersebut tidak akan berhasil, mencerminkan kondisi Spirit Airlines yang sudah sangat lemah.

Spirit Airlines sebelumnya sempat mencapai kesepakatan dengan kreditur untuk keluar dari kebangkrutan kedua pada pertengahan tahun ini. Namun lonjakan harga bahan bakar jet mengacaukan proyeksi biaya dan menggagalkan rencana tersebut.

Data menunjukkan Spirit Airlines melayani sekitar 1,7 juta penumpang domestik AS pada Februari dengan pangsa pasar 3,9%, turun dari 5,1% pada tahun sebelumnya, menandakan penurunan kinerja di tengah tekanan industri.

Setelah pengumuman penutupan, sejumlah maskapai besar AS langsung menawarkan tarif penyelamatan bagi penumpang terdampak. Frontier memberikan diskon luas, JetBlue menawarkan tiket mulai 99 dolar AS, sementara Southwest, United, dan American Airlines juga meluncurkan tarif khusus serta menambah kapasitas penerbangan pada rute tertentu.

Di sisi lain, pemerintah AS sempat mempertimbangkan intervensi langsung melalui skema pembiayaan dengan imbalan kepemilikan hingga 90% saham Spirit Airlines. Namun, perbedaan pandangan di internal pemerintahan terkait mekanisme bailout menjadi hambatan utama dalam realisasi rencana tersebut, mencerminkan kompleksitas kebijakan di tengah krisis industri penerbangan. (SA)