Laba BYD turun 55% di Q1 2025, tekanan EV China meningkat tajam
Minggu, 03 Mei 2026

JAKARTA – Raksasa kendaraan listrik China, BYD, membukukan penurunan laba bersih sebesar 55 persen pada kuartal pertama 2025 di tengah melemahnya permintaan domestik, penghapusan subsidi kendaraan energi baru, serta meningkatnya persaingan harga di pasar kendaraan listrik China.
Menurut laporan The Straits Times (3/5), BYD mencatat laba bersih sebesar 4,08 miliar yuan atau sekitar S$763,7 juta pada periode Januari–Maret 2025 berdasarkan filing bursa Hong Kong yang dirilis 28 April. Pendapatan perusahaan juga turun 11,8 persen menjadi 150,2 miliar yuan pada periode yang sama.
Penurunan kinerja terutama dipicu oleh melemahnya permintaan di pasar domestik China yang selama ini menjadi basis utama penjualan, sekaligus meningkatnya tekanan dari perang harga di industri kendaraan listrik terbesar di dunia tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, BYD tetap mencatat pencapaian penting dengan berhasil menjual lebih banyak kendaraan listrik dibanding Tesla pada 2025, menandai pertama kalinya produsen asal China itu melampaui pesaing asal Amerika Serikat dalam kategori tersebut.
Perlambatan kinerja juga diperburuk oleh kebijakan pemerintah China yang mulai menghapus bertahap subsidi untuk kendaraan energi baru. Kebijakan ini menekan daya beli konsumen sekaligus mempersempit margin produsen EV di pasar domestik.
Laporan The Straits Times (3/5) juga menyebutkan bahwa laba bersih tahunan BYD pada 2025 turun menjadi 32,6 miliar yuan atau merosot 19 persen dari 40,3 miliar yuan pada tahun sebelumnya, menunjukkan tren pelemahan kinerja yang berlanjut.
Seiring tekanan di dalam negeri, BYD mempercepat ekspansi ke pasar global sebagai strategi pertumbuhan. Perusahaan mencatat pertumbuhan penjualan di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa, meski masih menghadapi hambatan tarif tinggi di Amerika Serikat.
Di sisi lain, analis menilai kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong permintaan kendaraan listrik global, karena konsumen beralih ke alternatif energi yang lebih stabil di tengah volatilitas harga energi.
Secara industri, sektor otomotif China menjadi sorotan dalam gelaran Auto China di Beijing yang berlangsung hingga 3 Mei, dengan lebih dari 1.400 kendaraan dari ratusan produsen dipamerkan.
Dalam pameran tersebut, merek global seperti BMW dan Mercedes-Benz tetap memiliki porsi besar, namun panggung utama didominasi produsen China termasuk BYD serta raksasa baterai CATL, yang menegaskan kuatnya posisi industri EV China di panggung global. (SA)