UEA keluar, Pangeran Abdulaziz bin Salman hadapi ujian baru di OPEC+
Minggu, 03 Mei 2026

JAKARTA – Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, kehilangan pegangan kuat dalam memimpin OPEC+, di tengah gangguan terbesar sepanjang sejarah terhadap pasokan minyak global, seiring dengan keluarnya Uni Emirat Arab dari organisasi tersebut.
Seperti dikutip Reuters, Sabtu (2/5), Perang Iran tidak hanya melemahkan ekspor minyak mentah Teluk, tetapi juga membuat Arab Saudi dan anggota lain dari kelompok negara produsen minyak tidak dapat memanfaatkan kapasitas cadangan yang biasanya digunakan saat krisis.
Kepergian mendadak produsen terbesar keempat OPEC tahun lalu, Uni Emirat Arab, yang membawa serta kapasitas cadangan terbesar kedua setelah Arab Saudi, menjadi ujian berat bagi Menteri Enegi Saudi pertama dari kalangan kerajaan.
Gaya kepemimpinannya telah berubah dari diplomasi yang hati-hati menjadi pengambilan keputusan yang semakin sepihak, menurut dua delegasi dari kelompok OPEC+, aliansi dengan Rusia dan sejumlah produsen lainnya.
“UEA sudah lama merasa tidak puas di dalam OPEC dan tidak pernah mendapatkan perlakuan adil terkait kuotanya. Sekarang konsekuensinya mulai terlihat,” kata Jim Krane, peneliti di Baker Institute Universitas Rice.
Dikenal juga sebagai ABS, kekuatan Pangeran Abdulaziz di OPEC+ berasal dari besarnya produksi minyak Arab Saudi dan kapasitas cadangannya.
Berbeda dengan menteri energi sebelumnya, ABS adalah anggota kerajaan yang didukung oleh saudara tirinya, penguasa de facto Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).
ABS pernah memulai dan memenangkan perang harga dengan Rusia pada 2020 ketika Moskow awalnya menolak memangkas produksi saat permintaan anjlok.
Ia kemudian mengatakan dalam sebuah dokumenter Saudi: “Ini soal hidup atau mati, siapa yang menguasai sektor ini.”
ABS juga berulang kali menentang seruan mantan Presiden AS Joe Biden untuk meningkatkan produksi. Pada 2022, OPEC+ memberi ABS yang kini berusia 66 tahun kekuasaan yang belum pernah ada sebelumnya, mempercayainya sebagai Ketua untuk memanggil pertemuan kapan saja.
Kini, tuntutannya akan disiplin pasar menghadapi realitas baru.
Tidak Bisa Dikendalikan
Jika Selat Hormuz kembali dibuka dan produksi minyak Teluk normal, UEA yang tidak lagi terikat, yang menyumbang 12% produksi OPEC tahun lalu, akan menjadi variabel yang tidak lagi bisa dikendalikan oleh sang pangeran Saudi.
Kantor Komunikasi Saudi, Kementerian Energi Saudi, serta Kementerian Energi dan Luar Negeri UEA tidak menanggapi permintaan komentar.
Selama kejatuhan pasar minyak akibat pandemi 2020, ABS bersikeras pada kesepakatan bulat untuk pemangkasan produksi OPEC+ yang bersejarah, mendorong negosiasi maraton selama berhari-hari hingga tercapai kompromi diplomatik yang melibatkan Amerika Serikat menanggung sebagian pemangkasan produksi Meksiko yang sempat menolak.
“Namun komitmen melelahkan terhadap persatuan itu kini mengeras,” kata dua delegasi OPEC+.
Pejabat Saudi biasanya hanya memberi tahu para menteri dari produsen OPEC+ yang lebih kecil tentang kesepakatan final sehari sebelum pertemuan.
Dalam satu pertemuan terbaru, panggilan pertama dilakukan kepada Rusia, lalu perwakilan enam negara lain yang berkomitmen pada pemangkasan sukarela, dengan total durasi kurang dari setengah jam, kata salah satu delegasi.
Sejumlah delegasi mengakui bahwa Arab Saudi menanggung beban terbesar dalam pemangkasan produksi.
Namun, kurangnya konsultasi dalam keputusan besar dianggap sebagai perubahan yang menjengkelkan dari praktik sebelumnya.
Selain itu, peran analisis teknis juga semakin dipinggirkan sejak akhir 2022, sehingga keputusan langsung diambil oleh para menteri dengan sedikit ruang untuk perdebatan.
“Kami menghargai apa yang dilakukan Yang Mulia untuk harga minyak,” kata delegasi tersebut, yang meminta anonim.
Meski peristiwa terbaru memicu pertanyaan tentang kelangsungan OPEC dan aliansinya dengan Rusia, seorang delegasi dan sumber lain mengatakan krisis ini pada akhirnya akan memperkuat kohesi dan membuat pengambilan keputusan lebih lancar.
Persaingan Geopolitik
Persaingan geopolitik antara Arab Saudi dan UEA memuncak pada awal tahun ketika pertempuran pecah di Yaman antara faksi yang didukung masing-masing oleh Riyadh dan Abu Dhabi.
Perbedaan pendapat terkait minyak yang telah lama terjadi di dalam OPEC memanas pada 2021 ketika Abu Dhabi menuntut kuota produksi yang lebih tinggi.
Kesepakatan peningkatan 300.000 barel per hari hanya tercapai setelah keluhan disampaikan secara terbuka.
“Tidak masuk akal menerima ketidakadilan dan pengorbanan lebih lanjut, kami sudah cukup bersabar,” kata Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Faraj al-Mazrouei saat itu.
ABS mengatakan bahwa sedikit rasionalitas dan kompromi bisa menyelamatkan OPEC+, seraya menambahkan bahwa ia tidak pernah melihat tuntutan seperti ini dalam 34 tahun menghadiri pertemuan OPEC.
Kuota UEA telah meningkat sekitar 500.000 barel per hari sejak 2019, lebih besar dibanding anggota lain. Termasuk kenaikan target pada Juni 2023 saat Angola dan Nigeria justru dipangkas. Angola kemudian keluar beberapa bulan setelahnya karena marah.
Arab Saudi memberi konsesi tersebut karena UEA berkomitmen menginvestasikan US$150 miliar untuk memperluas kapasitas produksi, Namun pada akhirnya tetap keluar dari kelompok itu.
Kerugian yang Meluas
Bagi pasar minyak, keluarnya UEA dan target produksi tidak terlalu berdampak selama Selat Hormuz masih tertutup secara efektif.
Irak dan Kuwait kehilangan ekspor paling besar, sementara UEA masih mempertahankan sebagian pasokan melalui Teluk Oman. Arab Saudi berhasil mengalihkan 60–70% ekspornya ke Laut Merah melalui pipa yang dibangun pada 1981 saat perang Iran-Irak.
Di sela konferensi OPEC tahun lalu, Suhail Mohamed Faraj Al Mazrouei, mengatakan negaranya siap meningkatkan kapasitas hingga 20% menjadi 6 juta barel per hari setelah 2027, sekitar setengah kapasitas Saudi, sebuah tantangan nyata terhadap upaya ABS menahan produksi berlebih. (YS)