Bitcoin bertahan di US$78.000, S&P 500 cetak rekor baru AS

Minggu, 03 Mei 2026

image

JAKARTA — Harga bitcoin hari ini bertahan di atas US$78.000 dan sempat mendekati US$80.000, didorong sentimen positif dari kemajuan regulasi kripto di Amerika Serikat serta penguatan pasar saham global.

Menurut laporan CoinDesk (3/5), bitcoin diperdagangkan di level US$78.180 pada sesi Asia Sabtu, naik sekitar 0,8% dalam sepekan. Kenaikan ini terjadi setelah sempat turun ke kisaran US$75.500 pada Rabu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul laporan eskalasi militer Iran.

Pemulihan di pasar kripto terjadi seiring meredanya tensi global setelah Teheran dilaporkan menyampaikan proposal gencatan senjata baru kepada Washington melalui Pakistan, yang turut menekan harga minyak WTI hampir 3% ke sekitar US$102 per barel, dikutip dari CoinDesk (3/5).

Di sisi lain, pasar saham AS menunjukkan kinerja kuat. Indeks S&P 500 ditutup naik 0,3% pada Jumat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, menandai penguatan selama lima pekan berturut-turut yang ditopang oleh kinerja solid saham teknologi berkapitalisasi besar.

Nasdaq 100 juga menguat 0,9% ke level tertinggi baru. Saham Apple naik 3,2% setelah proyeksi pendapatan melampaui ekspektasi, sementara Oracle melonjak 6,5% setelah bergabung dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan untuk jaringan rahasia Pentagon, dikutip dari CoinDesk (3/5).

Dari sisi regulasi kripto, Senat AS merilis teks kompromi Clarity Act yang telah lama dinegosiasikan, mengakhiri berbulan-bulan pembahasan antara perusahaan kripto dan pelobi perbankan. Kesepakatan yang dirumuskan oleh Senator Thom Tillis dan Angela Alsobrooks ini melarang penerbit stablecoin memberikan imbal hasil yang murni berasal dari penyimpanan cadangan (reserve-based yield), namun tetap mengizinkan skema insentif berbasis aktivitas pengguna di platform kripto.

Perkembangan regulasi ini menjadi katalis penting bagi pasar kripto karena memberikan kejelasan terkait model bisnis stablecoin dan produk imbal hasil di industri tersebut. Coinbase yang berada di pusat pembahasan langsung menyatakan dukungan, dengan Chief Legal Officer Paul Grewal menilai aturan ini tetap mempertahankan imbalan berbasis partisipasi nyata di jaringan kripto, dikutip dari CoinDesk (3/5).

Dengan dirilisnya draf tersebut, proses markup di Komite Perbankan Senat dapat dilanjutkan, membuka jalan bagi Clarity Act untuk melangkah ke tahap berikutnya di Senat. Departemen Keuangan AS dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) akan memiliki waktu satu tahun setelah undang-undang disahkan untuk merumuskan aturan teknis terkait produk yield kripto.

Sementara itu, CEO ZeroStack Daniel Reis-Faria menilai pergerakan bitcoin yang masih tertahan mencerminkan ketidakpastian makro global, bukan kelemahan fundamental pasar kripto. Ia menekankan bahwa posisi bitcoin di bawah US$78.000 saat ini lebih dipengaruhi kondisi pasar luas, terutama karena belum adanya arah kebijakan lanjutan dari Federal Reserve setelah keputusan menahan suku bunga.

Ia juga menyoroti arus keluar ETF bitcoin dan melemahnya permintaan sebagai faktor penahan kenaikan harga. Menurutnya, kondisi ini tidak menunjukkan keluarnya investor institusi dari pasar kripto, melainkan hanya penundaan peningkatan eksposur. Jika arus dana kembali masuk, terutama melalui ETF atau institusi besar, harga bitcoin berpotensi naik lebih cepat.

Di pasar kripto lainnya, pergerakan cenderung bervariasi. Ether bertahan di US$2.310, XRP di US$1,39, dan Solana di US$84,57, relatif datar dalam sepekan. Dogecoin menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan hampir 10% ke level US$0,105, didorong oleh peningkatan minat di pasar derivatif dengan open interest kontrak berjangka yang sempat mencapai level tertinggi dalam satu tahun.

Untuk prospek pasar kripto, bitcoin masih membutuhkan katalis baru agar mampu menembus level US$78.000 secara meyakinkan. Sejumlah faktor utama yang berpotensi menjadi pendorong meliputi kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed, kembalinya arus masuk ETF bitcoin, serta perkembangan geopolitik global termasuk potensi pembukaan kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz. (SA)