China menentang AS, abaikan sanksi atas kilang minyak terkait Iran
Minggu, 03 Mei 2026

JAKARTA - China mengumumkan perintah untuk memblokir sanksi Amerika Serikat yang dijatuhkan kepada lima kilang China yang dituduh membeli minyak dari Iran.
Sanksi AS yang diumumkan oleh Departemen Keuangan pada akhir bulan lalu melarang kilang-kilang tersebut mengakses sistem keuangan AS dan berupaya menghukum siapa pun yang berbisnis dengan perusahaan-perusahaan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, seperti dikutip Aljazeera, Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa sanksi tersebut secara “tidak tepat” membatasi bisnis antara perusahaan China dan negara ketiga, serta melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional.
Kementerian tersebut mengatakan telah mengeluarkan “perintah larangan” yang menetapkan bahwa sanksi tersebut “tidak boleh diakui, ditegakkan, atau dipatuhi”, dan menyebut langkah itu sebagai upaya untuk “melindungi kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunan”.
“Pemerintah China secara konsisten menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki otorisasi PBB dan tidak memiliki dasar dalam hukum internasional,” tambah kementerian tersebut.
Kementerian itu menyatakan bahwa perintah tersebut memblokir langkah AS terhadap Kilang Hengli Petrochemical (Dalian) dan empat kilang independen lainnya yang dikenal sebagai teapot refineries yaitu:
[[Teapot refineries” adalah kilang minyak independen skala kecil–menengah di China, bukan milik perusahaan negara besar. Awalnya disebut “teapot” karena kapasitasnya kecil (ibarat “teko” dibanding pabrik besar). Maknanya dalam konteks ini adalah kilang yang lebih fleksibel dibanding kilang besar, sering membeli minyak murah dari negara yang kena sanksi (seperti Iran, Rusia, Venezuela), margin keuntungan biasanya tipis. Namun, perannya penting untuk suplai energi China, tapi juga sering jadi target sanksi.]]
Saat mengumumkan sanksi pada 24 April, Departemen Keuangan AS menyebut Hengli sebagai salah satu pelanggan paling berharga bagi Teheran, dengan mengatakan bahwa perusahaan tersebut telah menghasilkan ratusan juta dolar bagi militer Iran melalui pembelian minyak mentah.
Pemerintahan Trump juga telah menjatuhkan sanksi pada empat kilang lainnya tahun lalu.
China mendapatkan lebih dari setengah kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, sebagian besar dari Iran.
Menurut perusahaan data komoditas Kpler, China membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran pada tahun 2025.
Kilang “teapot” di China beroperasi secara independen dan umumnya lebih kecil dibandingkan fasilitas yang dijalankan oleh perusahaan minyak milik negara seperti Sinopec.
Fasilitas-fasilitas ini, yang penting bagi upaya China untuk mengamankan pasokan minyaknya, memanfaatkan minyak mentah berharga diskon besar dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela.
Kilang “teapot” menyumbang sekitar seperempat kapasitas pemurnian China, beroperasi dengan margin sempit—bahkan terkadang negatif, dan baru-baru ini tertekan oleh lemahnya permintaan domestik.
Sanksi AS telah menciptakan hambatan tambahan bagi kilang-kilang tersebut, termasuk kesulitan menjual produk olahan dengan label asal yang sebenarnya. (YS)
Terkait:
1. Trump: Kami seperti bajak laut. Ini bisnis yang sangat menguntungkan
2. AS makin agresif, blacklist Hengli Petrochemical karena terkait Iran