Iran sodorkan 14 poin damai, Trump ragu teken kesepakatan

Senin, 04 Mei 2026

image

JAKARTA - Donald Trump menyatakan masih mengkaji proposal damai 14 poin yang diajukan Iran untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat. Namun, ia meragukan peluang tercapainya kesepakatan, meski jalur diplomasi kembali terbuka.

Seperti dikutip Aljazeera, proposal terbaru Teheran dikirim melalui Pakistan sebagai mediator, menyusul gencatan senjata sejak 8 April. Dokumen itu merupakan respons atas rencana sembilan poin dari Washington.

Berbeda dengan pendekatan AS yang mendorong perpanjangan gencatan senjata, Iran menuntut penyelesaian menyeluruh dalam 30 hari. Paket tersebut mencakup jaminan tidak ada serangan lanjutan, penarikan pasukan AS di sekitar Iran, pencabutan sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, kompensasi perang, serta mekanisme baru pengelolaan Selat Hormuz.

Selain itu, Teheran menegaskan haknya untuk tetap melakukan pengayaan uranium sebagai bagian dari komitmen pada perjanjian non-proliferasi nuklir. Isu ini menjadi garis merah bagi Trump yang menuntut penghentian total kemampuan nuklir Iran.

Ketegangan kedua negara masih tinggi. Meski gencatan senjata berlaku, konflik laut terus berlangsung di Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan energi global. Iran juga masih menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak Februari.

Pemerintah AS di sisi lain tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang memperburuk krisis energi global. Harga minyak melonjak tajam, dengan Brent sempat menembus US$111 per barel dari sekitar US$65 sebelum konflik. Menanggapi proposal Iran, Trump mengirim sinyal campuran. Ia mengakui telah menerima “konsep kesepakatan”, tetapi tetap membuka kemungkinan aksi militer baru.

“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi,” kata Trump ketika ditanya apakah pemogokan akan dilanjutkan. Dalam pernyataan terpisah, Trump juga meragukan kelayakan proposal tersebut.

“…belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir”. Sejumlah analis menilai perbedaan utama masih berkutat pada isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz. Iran bersikeras mempertahankan kedaulatan program nuklirnya, sementara Washington menuntut pembatasan ketat hingga penghentian total.

“Iran telah ‘sedikit melunakkan’ proposalnya,” kata Paul Musgrave, seraya menambahkan bahwa perbedaan mendasar tetap belum terjembatani. Sementara itu, ketidakpercayaan Teheran terhadap Trump menjadi hambatan tambahan dalam negosiasi. “Masalahnya adalah Iran benar-benar tidak mempercayai Trump dan Amerika Serikat…,” ujar Kenneth Katzman.(DH)