Krisis energi belum usai, OPEC+ naikkan kuota minyak ketiga kali

Senin, 04 Mei 2026

image

JAKARTA - Aliansi OPEC+ kembali menaikkan kuota produksi minyak untuk ketiga kalinya secara beruntun sejak penutupan Selat Hormuz, namun kenaikan tersebut dinilai belum berdampak signifikan terhadap pasokan global.

Seperti dikutip Reuters, dalam pertemuan daring pada Minggu, tujuh negara anggota utama menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni. Angka ini melanjutkan tren kenaikan bulanan, meski tidak mencerminkan tambahan pasokan riil di pasar.

Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kesiapan OPEC+ untuk meningkatkan suplai jika konflik mereda, sekaligus menunjukkan konsistensi kebijakan di tengah keluarnya Uni Emirat Arab dari aliansi.

“OPEC+ mengirimkan pesan berlapis ganda ke pasar: keberlanjutan meskipun UEA keluar, dan pengendalian meskipun dampak fisik terbatas,” kata Jorge Leon, seorang analis di Rystad dan mantan pejabat OPEC.

“Meskipun produksi meningkat di atas kertas, dampak sebenarnya pada pasokan fisik tetap sangat terbatas mengingat kendala di Selat Hormuz. Ini bukan hanya tentang menambah barel, tetapi lebih tentang memberi sinyal bahwa OPEC+ masih memegang kendali.”

Kenaikan kuota juga terlihat pada Arab Saudi sebagai produsen utama, dengan target produksi mencapai 10,291 juta barel per hari, pada Juni jauh di atas realisasi produksi sebelumnya.

Namun, perang Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz sejak 28 Februari terus menekan ekspor minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Kondisi ini membuat tambahan kuota produksi belum mampu mengalir ke pasar secara optimal.

Meski jalur pelayaran dibuka kembali, pelaku industri memperkirakan pemulihan distribusi minyak global akan memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Gangguan pasokan ini telah mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun, menembus US$125 per barel. Risiko kekurangan bahan bakar penerbangan dan lonjakan inflasi global pun mulai meningkat.

Data terbaru menunjukkan produksi minyak OPEC+ turun signifikan pada Maret, dengan penurunan terbesar berasal dari Irak dan Arab Saudi akibat keterbatasan ekspor.

OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 7 Juni untuk mengevaluasi kebijakan produksi selanjutnya.(DH)