Harga minyak turun, IHSG menanti rilis data ekonomi
Senin, 04 Mei 2026

JAKARTA – Negosiasi putaran terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan menjadi fokus investor saham pada awal pekan ini, menjelang rilis sejumlah data ekonomi di dalam negeri.
Pada perdagangan Jumat (1/5) kemarin, indeks saham Wall Street bergerak campuran meskipun S&P 500 kembali mencetak rekor tertinggi baru, setelah harga minyak mentah Brent dan WTI melemah.
Dari dalam negeri, IHSG turun 2,42% dalam perdagangan sepekan kemarin dan tutup pada level 6.956,80 akibat tekanan dari saham blue chip seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Analis Phintraco Sekuritas menilai fokus investor global saat ini menanti potensi perundingan putaran terbaru antara AS dan Iran. Iran sebelumnya telah mengirim proposal perdamaian baru kepada AS, namun Presiden Trump mengaku tak puas dengan tawaran baru ini.
Dari dalam negeri, analis Phintraco menilai fokus pasar akan mengarah pada data indikator ekonomi seperti indeks manufacturing PMI, neraca dagang, inflasi, cadangan devisa, hingga indeks harga properti dan penjualan mobil.
“Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 ini di tengah kekhawatiran akan disiplin fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi,” jelas analis Phintraco.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengumumkan realisasi APBN 2026 hingga kuartal pertama mengalami defisit Rp240,1 triliun atau setara 0,93% dari PDB.
Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara teknikal disebut berada di fase penentuan, untuk tetap konsolidasi di bawah 7.000 atau rebound melewati fase terburuk dalam 10 bulan terakhir.
“Jika IHSG mampu rebound di atas level 7.000, diperkirakan akan bergerak di kisaran 7.020-7.150. Namun jika IHSG masih bergerak di bawah level 7.000, diperkirakan berpotensi uji level di 6.750-6.850,” jelas analis Phintraco dalam catatan yang disampaikan kepada investor.
Menurut data New York Mercantile Exchange (NYMEX), kontrak berjangka untuk minyak WTI dibuka menguat 0,15% ke US$102,09 per barel pada pembukaan sesi Asia hari ini. Sementara kontrak berjangka untuk minyak Brent naik 0,40% ke US$108,60 per barel.
Meskipun demikian, keduanya telah mencatat penurunan lebih dari 3% dalam dua hari perdagangan terakhir. (KR)