Perang Iran ubah jalur laut, Afrika jadi poros baru global
Senin, 04 Mei 2026

JAKARTA - Konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz memaksa industri pelayaran global mengalihkan rute utama, dengan Afrika kini muncul sebagai poros baru lalu lintas kontainer dunia.
Gangguan di Teluk Persia serta ketegangan di Laut Merah mendorong kapal-kapal besar menghindari jalur tradisional dan memilih rute memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Perubahan ini memperpanjang waktu pengiriman sekaligus meningkatkan biaya logistik global.
Selain jalur laut, operator logistik mulai mengandalkan koridor darat untuk mendistribusikan barang ke negara Teluk yang terputus akses laut. Pelabuhan Jeddah Port di Arab Saudi kini menjadi pusat transit baru sebelum barang dikirim melalui jalur darat ke kawasan seperti Sharjah, Bahrain, dan Kuwait.
Namun lonjakan aktivitas memicu tekanan kapasitas pelabuhan. "Pelabuhan Jeddah sama sekali tidak berukuran untuk menangani volume impor sebesar itu dan situasi kemacetan pelabuhan mulai muncul," kata Arthur Barillas de The, seperti dikutip Geo.
Data menunjukkan antrean kapal meningkat tajam, dengan waktu tunggu bongkar muat mencapai 36 jam dua kali lipat dibanding pekan sebelumnya.
Operator pelayaran global juga mulai memanfaatkan pelabuhan alternatif di luar Hormuz, seperti Sohar di Oman serta Khorfakkan dan Fujairah di Uni Emirat Arab, yang terhubung dengan jaringan distribusi darat.
Di rute internasional, pengalihan jalur dari Laut Merah sebenarnya sudah dimulai sejak serangan kelompok Houthi pada 2023. Namun, konflik Iran mempercepat tren tersebut hingga menjadi pola permanen.
"Mereka menyusuri Afrika dengan mengikuti pantai timurnya hingga Tanjung Harapan di Afrika Selatan bagian selatan sebelum kembali ke utara menuju Eropa dan Mediterania."
"Dengan situasi saat ini di Teluk, kami telah memasukkan beberapa koin lagi ke dalam mesin, situasinya tidak akan membaik dalam waktu dekat," ujar Edouard Louis-Dreyfus.
Saat ini, sekitar 70% lalu lintas kargo yang sebelumnya melewati Laut Merah telah dialihkan ke rute Afrika. Dampaknya signifikan. Waktu pengiriman Asia-Eropa bertambah rata-rata dua minggu, sementara biaya melonjak akibat konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi dan kebutuhan armada tambahan.
Harga pengiriman kontainer global juga naik, dengan tarif rata-rata meningkat 14% secara tahunan. Di sisi lain, pelabuhan Afrika mencatat lonjakan aktivitas, termasuk Tanger Med Port yang menangani 11 juta kontainer sepanjang 2025.(DH)
Sebaliknya, Mesir mengalami kerugian besar akibat turunnya trafik di Terusan Suez, dengan kehilangan pendapatan hingga US$7 miliar pada 2024.(DH)