Merek Jepang mundur, EV China serbu pasar Korea Selatan

Senin, 04 Mei 2026

image

JAKARTA - Produsen kendaraan listrik asal China mempercepat ekspansi di Korea Selatan, memanfaatkan celah yang ditinggalkan pabrikan mobil Jepang yang terus menyusut.

Seperti dikutip Koreatimes, Gelombang penarikan dimulai sejak Nissan keluar pada 2020 dan berlanjut dengan keputusan Honda untuk menghentikan penjualan kendaraan di Korea pada akhir tahun ini. Saat ini, hanya Toyota dan Lexus yang masih mempertahankan operasi penjualan.

Di sisi lain, produsen China tampil agresif. BYD menjadi pemain terdepan melalui unit lokalnya, berhasil menembus 10.000 unit penjualan kumulatif hanya dalam waktu sekitar satu tahun sejak mulai mengirimkan mobil listrik penumpang.

BYD bahkan naik ke posisi empat besar merek mobil impor dalam penjualan bulanan pada Maret, melampaui Toyota dan Lexus. Pencapaian ini mencerminkan perubahan persepsi konsumen terhadap kendaraan China yang kini dinilai lebih kompetitif dari sisi harga dan kualitas.

Ekspansi diperkirakan semakin intens. Zeekr mulai membangun tim di Korea menjelang peluncuran resmi, termasuk untuk fungsi penjualan dan layanan pelanggan. Merek ini berencana menghadirkan SUV listrik menengah 7X yang akan bersaing dengan Tesla Model Y, Hyundai IONIQ 5, dan Kia EV5.

Selain itu, Xpeng telah membentuk entitas lokal dan mempercepat rencana masuk pasar, sementara Chery Automobile juga diperkirakan menyusul.

Analis industri menilai pergeseran ini tidak lepas dari strategi berbeda antar produsen. Merek Jepang dinilai masih fokus pada kendaraan bermesin pembakaran dan hybrid, sementara produsen China lebih agresif mendorong transisi ke kendaraan listrik.

“Merek-merek Jepang tetap lebih fokus pada mesin pembakaran internal dan model hibrida, yang dipandang sebagai faktor kunci di balik keputusan Honda Korea untuk menarik diri dari pasar,” kata seorang pejabat industri.

“Produsen kendaraan listrik Tiongkok kemungkinan akan meraih lebih banyak peluang di sini, karena mereka lebih agresif dalam mendorong transisi menuju mobilitas listrik dibandingkan dengan pesaing mereka dari Jepang.”(DH)