Perang Timur Tengah mereda, saham Asia menguat hari Senin (4/5)

Senin, 04 Mei 2026

image

JAKARTA - Bursa saham Asia memulai perdagangan Senin (4/5) dengan penguatan, didorong optimisme yang tetap berhati-hati dari investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang mulai mereda, meski kondisinya belum sepenuhnya stabil.

Sentimen positif turut datang dari pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut pemerintahannya akan mengupayakan pembebasan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

Meski begitu, belum adanya rincian langkah membuat pelaku pasar tetap bersikap waspada, mengutip dari Reuters.

Mengacu pada laporan Reuters, ketegangan geopolitik masih membayangi setelah Iran menyatakan tengah mengevaluasi respons AS terhadap proposal 14 poin yang disampaikan melalui Pakistan.

Kondisi ini menahan pergerakan harga minyak, minyak mentah Brent bergerak stabil di kisaran US$108,30 per barel, sementara minyak mentah AS bertahan di sekitar US$102,01 per barel, setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 2% di awal sesi.

Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 0,6%. Penguatan dipimpin Korea Selatan dengan lonjakan indeks KOSPI sebesar 2,6% usai libur panjang.

Indeks Hang Seng di Hong Kong juga naik 1,83%, diikuti STI Singapura yang menguat 0,56%. Sebaliknya, indeks ASX 200 Australia masih melemah 0,26%.

Aktivitas perdagangan di kawasan relatif terbatas karena bursa Jepang dan China tutup akibat libur nasional, sehingga volume transaksi cenderung tipis.

Secara global, investor bersiap menghadapi pekan padat dengan rilis lebih dari 100 laporan keuangan perusahaan di AS, termasuk raksasa seperti Advanced Micro Devices, Super Micro Computer, Palantir Technologies, The Walt Disney Company, dan McDonald's.

Analis menilai kinerja laba perusahaan masih cukup solid, dengan pertumbuhan EPS indeks S&P 500 mencapai sekitar 25%, atau sekitar 16% jika tidak memasukkan faktor non-berulang.

Namun, reaksi pasar terhadap kinerja tersebut dinilai relatif terbatas.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi kembali mencuat, terutama akibat tingginya harga energi. Kondisi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan menekan valuasi saham.

Sejumlah bank sentral global juga mulai menunjukkan sikap yang lebih hawkish.

Ekspektasi pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran suku bunga yang sangat terbatas dari Federal Reserve hingga akhir tahun.

Bahkan, European Central Bank dan Bank of England masih dipandang memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga. (DK)