PMI Manufaktur terendah 10 bulan, RI hadapi gelombang PHK

Senin, 04 Mei 2026

image

JAKARTA – S&P Global mencatat kinerja Manufacturing PMI Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026, terendah dalam 10 bulan terakhir atau sejak Juni 2025.

Indikator yang mengukur kesehatan sektor manufaktur berdasarkan survei manajer pembelian ini, untuk pertama kalinya kembali menunjukkan kontraksi setelah bertahan di atas level 50 sejak Agustus 2025.

“Headline S&P Global Indonesia PMI turun di bawah ambang netral 50,0 pada April, menandakan penurunan kondisi sektor manufaktur untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan,” jelas S&P Global, dalam laporan yang disampaikan hari ini.

Sementara itu Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menilai Indonesia menghadapi tekanan inflasi yang semakin intens, akibat perang di Timur Tengah.

Tekanan geopolitik itu, kata Usamah, turut membuat output manufaktur Indonesia turun di tengah tantangan harga dan pasokan bahan baku.

“Sebagai respons, perusahaan juga mengurangi tenaga kerja dan aktivitas pembelian secara bulanan, sementara persediaan bahan pra-produksi juga turun karena perusahaan menggunakan bahan baku cadangan,” jelas Usamah.

Meskipun demikian, S&P Global tetap melihat adanya sinyal positif pada kinerja manufaktur Indonesia, dengan adanya kenaikan pesanan baru.

“Namun bukti survei menunjukkan hal ini sering kali didorong oleh pembelian lebih awal oleh pelanggan, yang mengantisipasi potensi gangguan lebih lanjut akibat konflik,” imbuhnya.

Untuk setahun mendatang, perusahaan manufaktur di Indonesia dinilai tetap optimis volume produksi kembali meningkat.

Meskipun tingkat kepercayaannya berada di level terendah dalam 5 bulan terakhir, S&P Global menilai optimisme kali ini didukung oleh fase peluncuran produk baru dan harapan konflik di Timur Tengah akan segera berakhir. (KR)