Neraca dagang RI surplus US$5,55 miliar berkat AS dan India
Senin, 04 Mei 2026

JAKARTA - Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,32 miliar pada Maret 2026.
Realisasi itu menambah jumlah surplus neraca dagang sejak awal tahun, menjadi US$5,55 miliar menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan capaian itu menambah rekor surplus neraca dagang hampir 3 tahun secara berturut-turut.
“Neraca dagang Indonesia telah mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 yang lalu,” kata Ateng, dalam konferensi pers Senin (4/5).
Sektor nonmigas tetap menjadi penopang perdagangan Indonesia di kuartal pertama, dengan realisasi surplus US$10,63 miliar.
Sementara komoditas migas tetap mencatat defisit, mencapai US$5,08 miliar pada kuartal pertama 2026.
“Tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu Amerika Serikat US$4,43 miliar, India US$3,29 miliar, dan Filipina US$2,09 miliar,” kata Ateng.
Sementara itu tiga negara yang menekan neraca dagang Indonesia di kuartal pertama yaitu China, dengan defisit US$5,18 miliar, Australia US$2,50 miliar, dan Singapura US$1,90 miliar.
Dari komoditas nonmigas, kinerja ekspor lemak dan minyak hewan maupun nabati (HS15) menjadi penopang surplus neraca dagang di kuartal pertama, yang menyumbang US$6,68 miliar.
Sedangkan komoditas nonmigas yang menjadi pemberat bagi neraca dagang di kuartal pertama, yaitu mesin dan peralatan mekanis (HS84) yang mencatatkan defisit US$7,47 miliar. (KR)