Yen melonjak, pasar curiga Jepang intervensi pasar valas

Senin, 04 Mei 2026

image

TOKYO - Yen Jepang menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, memicu spekulasi bahwa otoritas moneter Jepang kembali mengintervensi pasar valuta asing (valas) untuk menahan pelemahan mata uangnya. Penguatan ini mengingatkan pada langkah serupa yang pernah ditempuh Jepang pada 2022 dan 2024, ketika depresiasi yen tembus rekor terendah dan meningkatkan biaya impor. Sumber Reuters menyebut intervensi kemungkinan kembali terjadi pekan lalu, setelah yen tiba-tiba melonjak pada akhir perdagangan Kamis di Asia, tak lama setelah menembus level psikologis ¥160 per dolar AS. Pada perdagangan Senin pekan ini, yen sempat melonjak sekitar 0,9% dalam hitungan menit ke level ¥155,69 per dolar AS, meskipun pasar Jepang sepi karena libur nasional. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama, karena yen Jepang kembali melanjutkan koreksi. Analis menilai Jepang akan kesulitan mempertahankan penguatan yen di tengah tekanan suku bunga yang rendah, serta dampak lonjakan harga minyak global. Kementerian Keuangan Jepang belum memberikan tanggapan resmi terkait anomali tersebut. Perdagangan yang sepi akibat libur di Jepang juga menciptakan kondisi pasar yang rentan terhadap volatilitas, di mana otoritas sebelumnya telah memperingatkan spekulan agar tidak menguji komitmen mereka. Sejauh ini, otoritas Jepang masih enggan mengonfirmasi apakah intervensi di pasar valas benar-benar dilakukan. Namun data pasar uang pada Jumat menunjukkan Tokyo kemungkinan menggelontorkan hingga ¥5,48 triliun (sekitar US$35 miliar) untuk menahan depresiasi mata uangnya pekan lalu. Kepala strategi pasar ATFX Global, Nick Twidale, mengatakan pergerakan pada Senin kemungkinan kembali mencerminkan aksi otoritas.

“Bisa jadi ini mereka lagi. Mungkin tidak sebesar pekan lalu, tapi cukup untuk menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan yen terlalu lemah,” ujar Twidale. Tekanan terhadap yen telah berlangsung selama bertahun-tahun, dipicu oleh kebijakan suku bunga ultra-rendah dari bank sentral Jepang, kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi, serta membengkaknya biaya impor energi. Analis menilai selama harga minyak tetap tinggi dan Bank of Japan bertahan dengan memperketat kebijakan secara bertahap, intervensi pasar hanya akan berdampak sementara. “Dalam kondisi harga minyak tinggi, USD/JPY berpotensi kembali ke level ¥160,” kata Moh Siong Sim dari OCBC. (DK/KR)