Goldman Sachs: Jepang bisa intervensi yen 30 kali lagi
Senin, 04 Mei 2026

TOKYO - Jepang memiliki “daya tembak” untuk melakukan sekitar 30 kali intervensi di pasar mata uang dengan skala seperti yang terjadi pekan lalu, menurut analis Goldman Sachs Group Inc.
Namun, para pejabat diperkirakan akan tetap menjaga cadangan devisa mereka dan hanya turun tangan pada momen yang dianggap paling efektif, mengutip dari Bloomberg.
Otoritas Jepang diperkirakan telah menghabiskan sekitar ¥5 triliun (sekitar US$31,3 miliar) pada hari Kamis lalu untuk menopang yen setelah mata uang tersebut melemah melewati level 160 per dolar AS.
Ekonom Goldman Sachs, Yuriko Tanaka, menulis dalam laporannya pada Jumat malam bahwa intervensi saat volatilitas pasar masih tergolong moderat menunjukkan bahwa level tersebut dianggap sebagai “garis pertahanan” oleh para pembuat kebijakan.
“Karena sumber dana untuk intervensi valuta asing terbatas, kami memperkirakan Kementerian Keuangan Jepang akan berupaya memaksimalkan dampak setiap intervensi, dan secara hati-hati memilih waktu yang paling efektif, seperti saat yen melemah dengan cepat,” tulisnya.
Intervensi tersebut dilakukan setelah beberapa kali peringatan dari pejabat Jepang, dan menjadi yang pertama sejak Juli 2024, ketika yen juga sempat melewati level 160 dan memicu penguatan tajam mata uang tersebut.
Tekanan terhadap yen sendiri dipicu oleh tingginya biaya energi serta ekspektasi bahwa selisih suku bunga antara AS dan Jepang tidak akan menyempit dalam waktu dekat.
Ke depan, kemungkinan dan skala intervensi tambahan untuk menopang yen akan bergantung pada laju pelemahan mata uang, volatilitas pasar, serta level kurs itu sendiri, kata Tanaka.
Jepang saat ini memiliki sekitar US$1,2 triliun cadangan devisa per akhir Maret, termasuk US$161,7 miliar dalam bentuk simpanan valuta asing yang dapat digunakan untuk intervensi, sementara sisanya ditempatkan dalam surat berharga asing. (DK)