Payroll AS melonjak, pengangguran turun di tengah konflik Iran
Selasa, 05 Mei 2026

JAKARTA - Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat kembali menguat pada Maret, disertai penurunan tingkat pengangguran yang tak terduga.
Data ini menandakan stabilisasi pasar tenaga kerja di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran.
Rilis Bureau of Labor Statistics, pada Jumat (3/4) menunjukkan nonfarm payrolls melonjak 178.000, tertinggi sejak akhir 2024 dan melampaui seluruh estimasi dalam survei Bloomberg. Lonjakan ini terjadi setelah penurunan tajam pada Februari.
Pemulihan didorong berakhirnya aksi mogok lebih dari 30.000 pekerja sektor kesehatan serta meredanya gangguan cuaca musim dingin ekstrem yang sebelumnya menekan aktivitas ekonomi.
Kondisi ini memperkuat perhatian Federal Reserve terhadap risiko inflasi, terutama di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. "Jika konflik di Timur Tengah tidak terjadi, saya pikir narasi stabilisasi ekonomi akan semakin kuat," ujar Michael Pugliese, ekonom senior di Wells Fargo, seperti dikutip Bloombergtechnoz.
"Masalahnya, sekarang kita menghadapi guncangan baru yang mulai berdampak pada ekonomi." Peningkatan lapangan kerja dipimpin sektor kesehatan yang pulih pasca aksi mogok pekerja Kaiser Permanente di California dan Hawaii. Kenaikan juga meluas ke berbagai sektor, dengan indikator breadth of hiring mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Sektor konstruksi serta rekreasi dan perhotelan turut mencatat pemulihan setelah kontraksi Februari, sementara sektor manufaktur membukukan kenaikan perekrutan terkuat sejak akhir 2023.
Pasar merespons cepat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik setelah rilis data, sementara perdagangan saham tutup karena libur Jumat Agung.
Kenaikan payrolls Maret mengikuti revisi penurunan 133.000 pada Februari salah satu yang terbesar sejak pandemi. Meski demikian, rata-rata kenaikan tiga bulan mencapai 68.000, menjadi tren terkuat dalam hampir setahun.
Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%, meski sebagian dipengaruhi keluarnya sebagian tenaga kerja dari angkatan kerja.
Tingkat partisipasi turun ke 61,9%, terendah sejak 2021, termasuk pada kelompok usia produktif 25–54 tahun. Sementara itu, jumlah pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi meningkat.
Di sisi upah, tekanan mulai mereda. Rata-rata upah per jam naik 0,2% secara bulanan dan 3,5% secara tahunan, kenaikan paling lambat dalam hampir lima tahun. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli di tengah lonjakan harga energi.
Survei ketenagakerjaan mencerminkan kondisi pada minggu kedua Maret, tak lama setelah konflik Timur Tengah dimulai pada 28 Februari.
Dampak perang diperkirakan lebih terasa pada laporan berikutnya, seiring potensi penundaan perekrutan hingga pemutusan hubungan kerja akibat kenaikan biaya energi dan melemahnya permintaan.
“Saya tidak berpikir, seperti yang terlihat pada laporan pekerjaan hari ini, bahwa orang perlu merevisi perkiraan tahunan mereka secara signifikan,” kata Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
“Akan ada beberapa dampak negatif yang berlangsung sangat singkat pada ekonomi Asia, dan kami memperkirakan gangguan tersebut akan segera berakhir.” (DH)