Rupiah jebol rekor terendah baru di Rp17.394/US$
Senin, 04 Mei 2026

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah 0,33% ke level Rp17.394/US$ pada penutupan perdagangan Senin (4/5).
Padahal rupiah sempat menguat tipis ke Rp17.329/US$ di pembukaan perdagangan, setelah tutup di level Rp17.337/US$ pada akhir pekan lalu.
Posisi rupiah pada perdagangan awal pekan ini menjadi level terendah baru dalam sejarah, setara penurunan 4,28% sejak awal 2026 atau dari Rp16.687/US$.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyampaikan dalam catatan akhir April lalu bahwa pelemahan nilai tukar rupiah di atas Rp17.300 bukan hanya masalah bagi pasar, tetapi juga kebijakan domestik Indonesia.
“Cita-cita target GDP 8% jadi sangat tidak realistis, bahkan mempertahankan ~5% saja mulai berat,” ungkap Liza.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa level Rp17.300/US$ bukan sekadar pelemahan biasa. “Ini adalah sinyal bahwa fondasi makro sedang tertekan,” imbuhnya.
Dengan pelemahan tersebut, jelas Liza, tidak heran jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sebagai konsekuensi logis yang akan dibayar mahal.
Menurut catatan IDNFinancials.com, nilai tukar rupiah sempat menguat dan kembali di bawah Rp17.300/US$ selama dua hari berturut-turut, setelah Bank Indonesia (BEI) menahan suku bunga acuan di 4,75% pada 22 April 2026.
Dari kawasan emerging market Asia Pasifik, ringgit Malaysia memimpin penguatan sebesar 0,40% terhadap dolar AS, disusul penguatan yuan China 0,16% dan won Korea 0,06%.
Sementara rupiah terburuk kedua setelah baht Thailand yang melemah 0,44% terhadap dolar AS, lantas disusul peso Filipina yang melemah 0,20%, serta rupee India yang melemah 0,20%. (KR)