Laba Berkshire naik 18%, tumpuk kas terbesar sepanjang sejarah
Selasa, 05 Mei 2026

JAKARTA - Berkshire Hathaway membukukan kenaikan laba operasional pada kuartal I, namun tekanan ketidakpastian ekonomi mulai membebani sejumlah lini usaha berbasis konsumen.
Seperti dikutip Reuters, konglomerasi yang dibangun Warren Buffett dan kini dipimpin Greg Abel tersebut mencatat laba dari puluhan bisnis naik 18% menjadi US$11,35 miliar, dari US$9,64 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$10,1 miliar dari US$4,6 miliar. Namun, perusahaan menilai angka tersebut kurang mencerminkan kinerja operasional karena dipengaruhi keuntungan dan kerugian belum terealisasi dari investasi saham.
Di tengah minimnya peluang akuisisi bernilai besar, Berkshire menumpuk kas ke level tertinggi sepanjang sejarah, mencapai US$380,2 miliar pada akhir Maret. Kondisi ini mencerminkan kesulitan perusahaan dalam menemukan investasi yang sejalan dengan prinsip berbasis nilai.
Perusahaan juga kembali melakukan pembelian kembali saham senilai US$234 juta, aksi buyback pertama sejak Mei 2024, meski tidak ada pembelian lanjutan pada awal April.
Di sisi portofolio, Berkshire mencatat penjualan saham bersih US$8,1 miliar pada kuartal I, memperpanjang tren sebagai penjual bersih selama 14 kuartal berturut-turut. Pada Januari, perusahaan menggelontorkan US$9,5 miliar untuk mengakuisisi bisnis kimia milik Occidental Petroleum.
Tekanan pada bisnis konsumen.
Berkshire menilai ketidakpastian ekonomi yang meningkat mulai menekan kinerja sejumlah bisnis konsumen. Unit produk bangunan seperti Clayton Homes terdampak, sementara Forest River, Fruit of the Loom, dan Jazwares melaporkan penurunan pendapatan akibat melemahnya kepercayaan konsumen.
Portofolio bisnis Berkshire mencakup berbagai sektor, mulai dari asuransi melalui GEICO, transportasi lewat BNSF Railway, energi melalui Berkshire Hathaway Energy, hingga ritel seperti Dairy Queen dan See’s Candies.
Meski kerap dianggap mencerminkan ekonomi AS secara luas, fokus Berkshire pada asuransi dan aset riil membuat kinerjanya tidak selalu sejalan dengan tren pasar, termasuk lonjakan minat pada kecerdasan buatan.
Kuartal ini menjadi periode pertama di bawah kepemimpinan Abel sebagai CEO setelah menggantikan Buffett pada Januari, sementara Buffett tetap menjabat sebagai chairman.
Di pasar saham, kinerja Berkshire tertinggal dari indeks acuan. Sepanjang 2026, saham Kelas A turun 6%, berbanding terbalik dengan kenaikan 6% pada indeks S&P 500. Tekanan di asuransi, dukungan dari transportasi dan energi
Laba dari bisnis asuransi naik 4% menjadi US$4,4 miliar. Namun, kinerja underwriting GEICO melemah dengan penurunan 35% akibat lonjakan klaim kecelakaan dan biaya pemasaran. Abel menyebut industri asuransi kini “melunak” dan menjadi “lebih menantang” seiring meningkatnya aliran modal ke pasar, yang menekan kemampuan perusahaan menetapkan premi sesuai risiko.
Sebaliknya, sektor transportasi menunjukkan penguatan. BNSF Railway mencatat kenaikan laba 13% menjadi US$1,38 miliar, didorong permintaan pengiriman komoditas seperti biji-bijian dan bahan bakar.
Unit energi, Berkshire Hathaway Energy, membukukan kenaikan laba 2%, ditopang peningkatan pendapatan dari pipa gas alam meski biaya pemeliharaan dan mitigasi kebakaran meningkat. Sementara itu, lini manufaktur, jasa, dan ritel mencatat pertumbuhan laba 5% menjadi US$3,2 miliar.(DH)