Jepang buka ekspor senjata, RI langsung kunci kerja sama
Selasa, 05 Mei 2026

JAKARTA - Indonesia dan Jepang meneken perjanjian kerja sama pertahanan pada Senin (4/5), menandai penguatan kemitraan strategis di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Seperti dikutip channelnewsasia, penandatanganan berlangsung saat kunjungan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi ke Jakarta, menyusul pelonggaran aturan ekspor senjata oleh Tokyo bulan lalu. Kebijakan itu memungkinkan perusahaan Jepang menjual persenjataan mematikan ke negara mitra yang memiliki perjanjian pertahanan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan RI, Rico Ricardo Sirait, menyatakan kesepakatan ini bertujuan meningkatkan kerja sama bilateral di sektor pertahanan. “Perjanjian ini mencakup kolaborasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, latihan bersama, serta kerja sama maritim,” ujarnya kepada AFP.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga “membuka peluang untuk kerja sama dalam peralatan dan teknologi pertahanan” dengan tetap “memprioritaskan ... stabilitas kawasan”. Presiden Prabowo Subianto terus mendorong modernisasi alat utama sistem persenjataan sejak menjabat pada 2024, seiring kebutuhan memperkuat kesiapan militer nasional.
Koizumi menegaskan kemitraan ini akan memberi dampak luas bagi kawasan. Ia menyebut kerja sama pertahanan dengan Indonesia menjadi “kontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas ... bagi kawasan secara keseluruhan” di tengah “situasi internasional yang semakin kompleks dan tegang”.
Usai pertemuan dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, Koizumi melanjutkan lawatan ke Filipina untuk menghadiri latihan militer bersama yang juga melibatkan Amerika Serikat.
Langkah Indonesia memperluas kemitraan pertahanan terjadi dalam waktu berdekatan dengan sejumlah kesepakatan lain, termasuk kerja sama dengan Amerika Serikat, peningkatan hubungan keamanan dengan Prancis, serta perjanjian energi dengan Rusia.
Di tengah dinamika geopolitik tersebut, Indonesia tetap mengedepankan prinsip politik luar negeri bebas aktif, sembari memperkuat posisi strategisnya di jalur vital Selat Malaka, salah satu titik tersibuk dunia bagi distribusi minyak dan energi.(DH)